Saturday, March 30, 2019

Published March 30, 2019 by with 0 comment

Time Teaches Me to Love episode 1 part 2


Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Hari sudah pagi. Lin Lu dan Lian Shen bangun bersamaan. Lian Sen langsung lari di treatmil sedangkan Lin Lu meyisir rambut. Lian Sen naik mobil, Lin Lu-nya naik otoped.

Di tengah perjalanan Lin Lu melihat penjual makanan. Kurang tahu makanannya apaan. Dia membayar secara online.

Tiba-tiba angin bertiup agak kencang. Otopednya Lin Lu jatuh dan langsung kelindes sama mobilnya Lian Sen.

Lah? Lin Lu kesal banget. Dia mau ngejar mobilnya Lian Sen tapi nggak bisa dan hanya ingat nomor plat mobilnya aja.


Akhirnya Lin Lu sampai juga di Huanzhen. Tempatnya sangat besar. Dia langsung selfie di lobi kantor. Nggak lama kemudian Lian Sen masuk.

Lin Lu langsung menghampirinya dan minta difotoin. Lian Sen menerima ponsel Lin Lu dan nggak ada niat sedikitpun buat ngambil foto sementara Lin Lunya udah pasang banyak gaya.

Lin Lu mengambil ponselnya kembali dan nggak menemukan satupun fotonya. Lah? Lian Sen main pergi gitu aja.

Lin Lu nggak terima. Dia pun mengejar Lian Sen. Karena Lin Lu belum dapat kartu pengenal, ia pun minta satpam buat membukakan akses untuknya karena ia akan ikut interview. Satpam mengiyakan dan membukakan untuk Lin Lu.

Lin Lu lalu menemui Lian Sen dan pasang wajah sinis. Apa Lian Sen lupa nyimpan? Dia pun mengajari Lian Sen gimana caranya menyimpan gambar.

Lian Sen memalingkan wajahnya malas. Lin Lu tersenyum dan menduga kalo Lian Sen juga karyawan Huanzhen. Sambil menyentuh lengan Lian Sen ia merasa kalo perawatan teh Huanzhen nggak buruk.

Lian Sen merasa risih disentuh-sentuh sama Lin Lu. Ia lalu membersihkan lengannya.

Lin Lu memberitahu kalo dia datang buat interview menjadi make up artis. Ia memperkenalkan diri dan merasa kalo mereka akan jadi kolega nantinya. Ia mengulurkan tangannya bermaksud ngajak salaman tapi Lian Sen sama sekali nggak respon.

Pintu lift terbuka. Lian Sen masuk dan meninggalkan Lin Lu begitu saja.


Lin Lu kesal. Dia menarik tangannya kembali dan ikut masuk lift. Lin Lu memperhatikan penampilan Lian Sen dari ujung kaki sampai ujung kepala.

Nggak mau salaman, nggak mau ngomong dan wajahnya kaku. Menurut Lin Lu Lian Sen pasti orang yang takut bersosialisasi.

Bermaksud buat basa-basi Lin Lu menanyakan apa Lian Sen sering diatur sama orang lain saat di kantor?

Lian Sen hanya melirik Lin Lu sambil membatin, gadis ini g*la apa, ya? Lin Lu juga jadi malas jadinya. Dia memalingkah wajahnya.


Fang Qi menunggu Lian Sen di ruangannya ditemani Maggie, sekretarisnya Lian Sen. Fang Qi mengaku mendengar kalo dengar kalo Manajer senior mengundurkan diri secara bersamaan. Ia menanyakan apa yang terjadi?

Maggie memberitahu kalo pagi ini ada berita laporan pengunduran diri kolektif. Fang Qi lalu menanyakan apakah itu akan mempengaruhi peluncuran produk baru?

Maggie merasa kalo Fang Qi mungkin punya rencana khusus untuk menanganinya.

Nggak lama kemudian Lian Sen datang. Ia meminta Maggie untuk mengirimkan resume dari masing-masing departemen ke emailnya.

Maggie mengiyakan lalu pergi. Lian Sen duduk di dekat Fang Qi. Fang Qi mengajaknya sarapan. Lian Sen menolak dan bilang kalo dia sudah sarapan.

Fang Qi mengaku sudah mendengar situasi di Huangzhen. Dia punya ide dan nggak masalah kalo manajer senior mengundurkan diri bersamaan, menurutnya itu akan membuat peluncuran produk baru Lian Sen jadi laris.

Fang Qi memberikan sebuah dokumen ke Lian Sen dan menyinggung tentang saingan besar Lian Sen merek Sally. Ia datang untuk menjadi Duta Merek baru Lian sen.

Meski ia bukan bintang besar tapi dalam kalangan fashion dia punya pengaruh bahkan bisa ngasih modal. Dengan terang-terangan Fang Qi bilang kalo dia ingin menjadi istri masa depan Presdir.


Lian Sen langsung menutup dokumen yang ia baca dan menatap Feng Qi tajam. Feng Qi tersenyum dan menyampaikan kalo tim syuting sudah siap di lantai bawah. Ia bangkit dan akan turun.

Lian Sen membanting dokumen dari Fang Qi dan memanggil Maggie. Maggie datang. Lian Sen menanyakan tentang perkembangan produksi Cinderella.

Maggie memberitahu kalo produk sudah siap dipasarkan. Maggie memberitahu kalo tadi pagi para manajer dari tiap departemen mengundurkan diri bersamaan dan mereka akan menghubunginya.

Lian Sen malah melarang. Dia berencana mengatur staf yang memadai buat posisi Direktur sementara. Maggie mengangguk mengiyakan.

Lian Sen juga menambahkan kalo buat kedepannya nggak perlu persetujuan dari siapapun buat melarang yang ingin masuk ke ruangannya. Ia mengingatkan kalo Maggie adalah asistennya.

Maggie mengiyakan lalu pergi. Ponsel Lian Sen bunyi. Ada yang nelpon. Lian Sen malas lalu mematikan ponselnya.


Lin Lu keluar dari lift dan belajar memperkenalkan diri buat pas interview nanti. Namanya Shi Lin Lu, usia 22, lulusan universitas Xiacheng, dia datang interview untuk posisi Spesialis Make up.

Lin Lu berjalan dengan sangat percaya diri. Ia lalu bertemu dengan seorang bibi yang sedang mengepel lantai. Lin Lu permisi mau masuk buat interview.

Bibi itu memberitahu kalo semua manajer senior menghilang. Lin Lu agak kurang yakin gitu. Ia bertanya-tanya lalu siapa yang dia temui di lift tadi? Lin Lu kecewa banget dan merasa kalo dia sangat sial.

Lin Lu ke toilet dan memberitahu Liang kalo semua manajer senior mengundurkan diri secara bersamaan dan wawancaranya dibatalkan.

Lin Lu merasa kalo para manajer itu nggak punya morak. Tahu kalo perusahaan Huanzhen sangat bagus tapi mereka malah mengundurkan diri.

Padahal kalo Huanzhen merekrutnya sebagai spesialis make up dia bakal tinggal seumur hidup di Huanzhen dan ngasih seekor sapi. Dan sekarang interviewnya hilang bersama dengan harapannya. Tahu kan kalo pekerjaan itu sangat penting untuknya.

Liang meminta Lin Lu agar nggak usah berkecil hati. Saat ini Huanzhen sedang dalam kondisi buruk. Menurutnya mungkin itulah yang terbaik. Ia mengingatkan kalo Lin Lu adalah spesialis make up

Liang janji akan mencarikan pekerjaan lain. Ia akan mencoba menanyakan pada temannya yang dulu mengelola Sally di jalan Xinhua apakah mereka akan merekrut staf baru.

Lin Lu menolak. Impiannya adalah menjadi spesialis make up di Huanzhen agar ia bisa menjadi kolega spesialis make up internasional, Kevin.

Seseorang bilang sangat menyayangkan. Lin Lu lalu mengakhiri telponnya dan akan pulang bersama Liang nanti malam.


Fang Qi keluar lalu berdiri di samping Lin Lu. Lin Lu mengenalinya sebagai orang yang ia tabrak tadi pagi. Ia menanyakan apa pekerjaan itu sangat penting buat Lin Lu? Lin Lu mengiyakan.

Fang Qi kembali bertanya apa Lin Lu benar-benar ingin bekerja di Huanzhen? Lin Lu kembali mengangguk.

Feng Qi mengaku punya pekerjaan yang sangat mendesak. Ia meminta Lin Lu untuk ikut dengannya karena ia butuh make up. Lin Lu senang mendengarnya.

Feng Qi duduk di depan meja make up dan menyuruh Lin Lu untuk meriasnya. Lin Lu bertanya seolah nggak yakin apakah Feng Qi benar-benar ingin ia melakukannya?

Feng Qi nggak menjawab. Lin Lu menangkap kalo Feng Qi menginginkannya. Ia pun segera menunjukkan kebolehannya dan merias wajah Feng Qi.

Lin Lu memulai dari mata lalu pipi. Dan terakhir ia menambahkan pewarna bibir. Nggak butuh waktu lama make up Lin Lu selesai dan Feng Qi sangat puas dengan hasilnya.


Pemotretan pun dimulai. Feng Qi berpose di depan kamera. Lin Lu nerasa kalo Feng Qi sangat cantik dan ikut nengambil foto dengan ponselnya. Nggak lama pemotretan selesai. Fang Qi menghampiri fotografer dan melihat hasilnya.

Lin Lu memanfaatkannya untuk berselfie di tempat pemotretan. Feng Qi melihatnya lalu meminta fotografer untuk mengambil gambar Lin Lu karena menurutnya Lin Lu sangat manis.

Fotografer mengiyakan dan mulai mengambil gambar. Lin Lu nenyadari kalo dirinya sedang dipotret. Ia berhenti bergaya dan meminta maaf.

Feng Qi bilang nggak papa dan memintanya untuk melanjutkannya. Lin Lu lalu kembali berpose. Fotografer memintanya untuk senyaman mungkin.

Feng Qi menghampiri Lin Lu setelah selesai dipotret. Lin Lu menanyakan kenapa Feng Qi meminta fotografer untuk memotretnya?

Feng Qi mengatakan kalo tadi ia merasa kalo Lin Lu nampak cantik dan ia meminta fotografer memotret untuknya. Ia lalu meminta Lin Lu untuk datang lagi besok karena menurutnya make up Lin Lu sangat bagus. Ia lalu pergi meninggalkan Lin Lu.


Lin Lu lalu menghampiri seorang kru dan menanyakan siapa wanita yang tadi bicara dengannya? Orang itu memberitahu kalo Feng Qi adalah calon istri Presdir Huanzhen.

Lin Lu seneng banget dengarnya. Dia lalu nelpon Jing Jing, Liang, ibunya, dan memberitahu mereka kalo dia barusan direkrut sama calon istrinya Presdir dan ia akan jadi karyawan Huanzhen. Para kru sampai melongo melihat tingkah Lin Lu.

Lin Lu menyadari kalo dia sedang diperhatikan. Ia pun meminta maaf. Dia lalu mau nelpon Xiaocheng tapi malah pulsanya habis. TT. Lah?? Tapi nggak papa. Dia kan akan dapat gaji bulanan.


Maggie mendatangi Lian Sen di mejanya dan memberikan beberapa dokumen untuk ditandatangani siang ini. Lian Sen mengerti. Ia lalu memberikan dokumen lain pada Maggie dan memintanya untuk memberikan dokumen itu kepada pengacara Ha.

Maggie mengambilnya lalu pergi. Lian Sen melihat jadwalnya. Tahu-tahu ponselnya bunyi lagi. Dari Zhichen.

Lian Sen mengendarai mobilnya dan menemui Zhichen di laut. Zhichen memberitahu kalo itu adalah laut yang Lian Sen inginkan dan kedepannya rapat mereka akan diadakan disana.

Zhichen mengeluh kalo kerja sama Lian Sen membuatnya cepat tua karena nggak dikasih hak buat bicara. Dia lalu berniat menikmati waktunya dengan tenang.

Lian sen hanya tersenyum mendengarnya. Ia menanyakan apa disana tenang? Zhichen mengiyakan. Dan habis itu dia malah nyanyi. Lian Sen malas dengarnya. Dia melarangnya menyanyi. Zhichen nggak ngerti, kenapa nggak boleh?

Tiba-tiba ponselnya bunyi. Ia mengangkatnya dan harus pergi. Zhichen mengiyakan. Ia memberikan sebuah kotak ke Lian Sen lalu pergi.


Lian Sen membuka kotak itu lalu tersenyum. Pelindung sepatu. Nggak lama kemudian Lian Sen sudah berjalan di tepi pantai dan sangat menikmatinya.

Ternyata disana juga ada Lin Lu yang lagi ngomong sama batu dan cangkang kerang. Dia teriak kalo dia ingin menghasilkan uang.

Teriakan Lin Lu mengganggu Lian Sen. Lian Sen menghela nafas kesal dan menghampiri Lin Lu. Lin Lu menganggap kalo itu adalah tempat rahasianya sedangkan Lian Sen memberitahu kalo itu adalah area pribadinya. Ia menyuruh Lin Lu untuk pergi.

Lin Lu nggak mau pergi. Menurutnya nggak seharusnya Lian Sen mengklaim kalo semua pasir itu adalah miliknya. Dia adalah orang yang pertama datang dan juga ia sudah menempati pantai itu selama 2 tahun.

Lian Sen kesal dan menyuruh Lin Lu untuk diam karena dia sangat berisik.

Lin Lu nggak terima. Kalo biasanya Lian Sen nggak banyak ngomong sekarang dia boleh kalo mau ngomong. Dia sungguh nggak peduli.

Lin Lu berjalan menghampiri Lian Sen dan tahu-tahu jatuh gara-gara kehilangan keseimbangan. Lian Sen menangkapnya. Mereka lalu saling menatap dan suasana terasa sedikit romantis.

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate