Sunday, March 31, 2019

Published March 31, 2019 by with 0 comment

Time Teaches Me to Love episode 3 part 2



Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Fang Qi datang ke kantor Lian Sen dengan diantar oleh Maggie. Ia membawa dua contoh undangan dan meminta pendapat Lian Sen. Yang ceria apa sederhana?

Tanpa menoleh Lian Sen bilang kalo dia nggak mau milih. Nggak akan dipakai juga.

Fang tetap sabar. Ia meletakkan dua undangan itu di atas meja dan mengingatkan kalo semuanya sudah diumumkan dan jamuan pertunangan juga hampir siap.

Ia menuduh kalo Lian Sen ingin menghindari pernikahan. Itu bukan gayanya. Atau apa Lian Sen ingin menikahi wanita lain?

Lian Sen memberitahu kalo dia sudah punya pacar. Fang langsung tahu kalo yang Lian Sen maksud adalah Lin Lu. Tapi dia nggak percaya karena selama 20 tahun ini satu-satunya wanita yang ada di samping Lian Sen hanya dia. Maggie juga ding. Dan cuman dalam beberapa hari Lian Sen bilang kalo dia punya pacar? Dikiranya dia bakal percaya?




Lian Sen santai. Dia bangkit dan merasa kalo harusnya Fang lebih tahu kalo mereka nggak akan pernah tunangan. Lian Sen berbalik dan menaruh sebuah dokumen ke dalam rak.

Fang hanya bisa menghela nafas. Dia bersikukuh akan tetap melanjutkan pertunangan itu dan menyuruh Lian Sen untuk melanjutkan pekerjaannya sementara ia akan melihat persiapannya.

Fang keluar dengan perasaan marah. Para karyawan terus  menatapnya. Zichen tiba-tiba menelponnya. Mereka lalu ketemuan di jembatan.

Zichen berniat menghibur Fang dengan nyanyian tapi Fang benar-benar nggak mau mendengarnya. Dia berniat pergi tapi Zichen malah menanhannya.


Ia mengucapakan selamat atas pertunangan Fang dengan Lian Sen. Ia lalu kembali bernyanyi memuji senyuman Fang dan berhasil membuatnya tersenyum. Biasanya dia selalu terlihat serius.

Fang pun berterima kasih. Zichen mengaku sulit pas latihan. Dia sendiri nggak pandai nyanyi. Dan kalo nggak salah lagu itu adalah lagu favoriitnya Fang. Fang meralat, bukan lagu favoritnya tapi ibunya.

Zichen mengaku akan menyukainya kalo ibunya Fang juga menyukainya. Ia lalu menyinggung tentang pertunangan Fang dengan Sen ge bentar lagi.

Ia merasa harus melakukan sesuatu buat pria yang dia benci dan wanita yang ia sayangi. Ia sangat tertekan karena dalam hubungan itu Fang yang paling banyak memberi. Tapi ia akan memberikan restunya kalo itu adalah kebahagiaan yang Fang inginkan.

Fang menatap Zichen dan nggak ngerti kenapa tiba-tiba jadi puitis gitu. Zichen hanya tersenyum lalu merentangkan tangannya minta dipeluk.

Fang nggak mau. Ia berbalik dan mau pergi. Zichen menyusulnya dan merengek minta dipeluk.


Lin Lu menghitung semua uang yang ia dapatkan dari bekerja paruh waktu. Jing Jing menanyakan berapa lagi kurangnya?

Lin Lu menghitungnya, 337.804 Yuan. Jing Jing nggak ngerti kenapa masih banyak aja kurangnya. Lin Lu memberitahu kalo untuk kontrak yang ia dapatkan belum dibayar full. Baru 30.000 Yuan aja yang ia dapat.

Jing Jing menyarankan agar Lin Lu minta dibayar di muka. Lagian Presdirnya kan sangat kaya dan 100.000 Y nggak ada artinya bust mereka.

Jing Jing menyarankan agar Lin Lu nenemui Presdir dan meminta bantuan. Ucapkan beberapa kalimat dan kalo perlu tereskan beberapa air mata.

Lin Lu nggak yakin apa itu akan berhasil? Jing Jing menghela nafas dan bertanya apa Lin Lu punya cara lain? Lin Lu menggeleng. Nggak.


Lian Sen mendapat kiriman foto Lin Lu saat di klub malam. Dia kesal. Beberapa saat setelahnya Lin Lu datang. Ia meminta pembayaran di muka untuk kontrak perwakilan.

Lian Sen menyindir, Lin lu masih ingat kalo dia seorang perwakilan? Ia melemparkan foto yang baru saja ia dapat ke Lin Lu.

Lin Lu membuka dan melihat isinya. Dia meminta maaf dan mengaku nggak tahu kalo dia diawasi. Ia hanya bekerja paruh waktu karena...  .

Belum juga selesai ngomong, Lian Sen sudah menyindir lagi, sekarang nggak tahu, lain kali Lin Lu akan bilang kalo itu nggak sengaja? Lin Lu mengatakan kalo dia benar-benar nggak sengaja. Dia bekerja untuk adik... .

Lian Sen benar-benar nggak mau dengar lagi. Siang hari menjadi perwakilan dan malam hari menjadi wanita malam. Ia menanyakan berapa banyak uang yang Lin Lu ingin? Lin Lu tersinggung. Apa tuh maksudnya?

Lian Sen memberikan tawaran untuk menjadi pacarnya menggantikan Fang dan ia akan memberinya banyak uang.

Lin Lu menolak. Dia marah-marah dan nggak terima Lian sen melakukan itu pada Fang. Lian Sen bisa nggak memberinya uang dan memandang rendah dirinya tapi jangan menghinanya.


Lian Sen nggak tahan lagi. Dia bangkit dan memberitahu kalo pertama, nggak ada yang spesial antara dirinya dan Fang. Dan dia juga nggak akan menikahinya.

Kedua, ia ingin Lin Lu menjaga bicaranya. Menurutnya Lin Lu sama sekali nggak menarik.

Lin Lu mengalihkan kalo dia memang butuh uang tapi ia juga nggak akan menjual tubuhnya dan juga cintanya. Kalopun dia mau jual diri juga nggak akan menjualnya ke Lian Sen. Pemarah, sombong, narsis, merasa paling benar, feminim, berobat dulu sono!


Lian Sen makin geram. Ia menyindir kalo terlalu semangat akan lebih menyenangkan.

Lin Lu tersenyum. Ia menginjak kaki Lian Sen lalu menamparnya habis itu pergi.

Lian Sen jadi makin benci pada Lin Lu dan menyebutnya wanita g*la. Ia lalu memanggil Maggie dan minta dicarikan semua informasi tentang Lin Lu.

Lin Lu berjalan pulang sambil memaki-maki Lian Sen. Hadeuh, keluar semua. Sudah punya nona Fang tapi nggak bersyukur.


Waktu Lin Lu tinggal satu hari lagi. Ia menelpon teman dan kerabatnya untuk meminjam uang tapi nggak ada yang bersedia meminjamkan uang.

Dan saat ia mulai putus asa, manajer klub malam mengiriminya pesan kalo akan ada banyak bos besar nanti malam. Itu peluang bagus untuk menjual alkohol. Ia meminta Lin Lu untuk datang lebih awal.


Maggie sudah mendapatkan informasi tentang Lin Lu dan memberikannya ke Lian Sen. Ayahnya sudah lama meninggal dan adiknya sedang sakit dan akan menjalani operasi karena sudah mendapatkan donor ginjal yang tepat.

Lian Sen membaca semua informasi tentang Lin Lu dan merasa menyesal karena sudah salah paham. Ia mengambil kunci mobilnya lalu pergi.


Lin Lu kembali menjual alkohol di klub malam. Para bos itu meminta Lin Lu untuk ikut minum dan ia janji akan beli banyak.

Lin Lu menolak dan bilang kalo dia nggak minum. Mereka lalu menuding Lin Lu sebagai sepatu rusak yang nggak lagi diinginkan oleh Presdir Huanzhen.

Lin Lu memberitahu kalo dia nggak punya hubungan apa-apa dengan Presdir Huanzhen. Ia mau pergi kalo memang mereka nggak beli.

Para bos melarang Lin Lu pergi. Mereka memaksanya untuk minum dan akan membelinya kalo Lin Lu mau minum.

Lin Lu menolak dan nggak sengaja menjatuhkan gelas itu. Pria itu marah dan berniat memukul Lin Lu.

Lian Sen tahu-tahu masuk. Dia menghampiri Lin Lu dan menggendongnya pergi.


Lin Lu tersenyum menatap Lian Sen. Ia merasa seperti seorang putri yang diselamatkan pangeran.

Entah kenapa Lian Sen tampak sangat tampan dimatanya. Sampai di luar Lin Lu menanyakan tawaran Lian Se kemarin dan meminta untuk menandatangani kontak cinta.

Lian Sen sedikit tersenyum dan bilang nggak masalah. Perut Lin Lu tahu-tahu bunyi.

Lah, merusak suasana aja. Dia lalu bilang ingin makan malam. Lian Sen mengangguk dan berjalan.


Lin Lu membawa Lian Sen makan di kedai pinggir jalan. Itu adalah pertama kalinya Lian Sen makan di tempat seperti itu.

Ia membersihkan meja dan meletakkan banyak tissue di atas tempat duduknya. Lin Lu aja sampai geleng-geleng lihatnya. Benar-benar g*la kebersihan.

Lin Lu membawa makanannya dan duduk di hadapan Lian Sen. Ia menebak kalo ini adalah pertama kalinya Lian Sen makan disana.

Nggak papa. Semuanya harus dimulai dari pertama. Ia memberitahu kalo makanannya sangat enak. Ia menyuruh Lin Lu untuk mencobanya dan ia akan menyukainya.


Lian Sen nggak bilang apa-apa. Lin Lu bertanya apa Lian Sen berpikir kalo dia konyol? Lian Sen ingin makan apa? Ia akan pesankan.

Lian Sen mengaku nggak ingin makan apa-apa. Lin Lu memberikan sumpitnya pada Lian Sen dan menyuruhnya untuk mencobanya.

Lian Sen nggak punya pilihan lain karena Lin Lu terus mendesaknya. Ia mengambil sumpitnya dan menyumpit makanan. Agak ragu-ragu antara mau makan apa enggak. Tapi akhirnya ia memakannya juga. Lin Lu aja sampai kaget lihatnya.


Lin Lu mengambil tissue dan membersihkan mulutnya. Ia menarik ucapannya sebelumnya. Tentang kontrak itu, berapa yang Lin Lu butuhkan?

Lin Lu langsung teringat dengan operasi Lin Cheng. Tanpa ragu ia mengatakan 500.000 Yuan. Ia berharap kalo  Lian Sen bisa memberikannya sebelum besok karena ia sangat membutuhkannya.

Lian Sen setuju. Ia menanyakan hal lain yang Lin Lu butuhkan selain uang. Lin Lu mengajukan satu pertanyaan. Ia tahu kalo Lian Sen mencarinya karena Cinderella. Ia menanyakan berapa lama kontrak mereka nantinya. Setengah bulan? Satu bulan? 100 hari?

Lian Sen setuju. Ia meminta agar Lin Lu datang ke kantornya besok jam 11. Lin Lu mengangguk lalu memakan makanannya.


Lin Lu datang ke kantor Lian Sen esok harinya. Lian Sen memberinya kontrak dan mintanya untuk tandatangan kalo nggak ada masalah lagi.

Lin Lu melihat kontrak itu sekilas dan langsung setuju saat melihat berapa banyak  uang yang akan ia dapatkan. Ia pun menandatanganinya tanpa ragu.

Habis tandatangan Lian Sen langsung mengirimkan uangnya ke nomor Lin Lu. Lin Lu langsung memeriksanya. Sambil senyum ia meminta Lian Sen untuk nggak khawatir. Entah itu menawan, anggun atau seksi, ia akan menjamin kalo Lian Sen akan merasa puas. Lian Sen ikut senyum. Ia akan menunggu dan melihatnya.

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate