Tuesday, April 2, 2019

Published April 02, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 10 part 2


Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Sudah jam satu pagi. Lian Sen masih sibuk kerja sementara Lin Lu menemani di dekatnya sambil membaca komentar buruk dari para konsumen.

Mereka menuduh Lin Lu yang telah menjual produk palsu padahal mereka sudah membeli banyak. Nggak heran kalo wajah mereka buruk.

Lin Lu nggak tahan dengan semua komentar itu. Ia pun memberi penjelasan kalo wajah mereka buruk karena diet, cuaca, kurang tidur dan hal lain. Gangguan endokrin. Ia  berniat memberikan nasehat pada mereka semua.

Lin Lu menulis kalo Huanzhen nggak akan pernah menjual produk palsu dan Shi Zong bukanlah seorang pencatut.
Ia lalu bersandar. Rasanya aneh. Nggak ada yang meneriakinya juga. Kenapa dia sangat marah?

Lian Sen melirik Lin Lu. Diam-diam ia tersenyum lihat wajah kesal Lin Lu.




Nggak lama kemudian Lin Lu sudah tertidur. Lian Sen melihatnya dan tersenyum. Ia lalu bangkit dan mengambil jas. Ia menyelimuti Lin Lu dengan jasnya.

Fang yang berniat mengantarkan makanan untuk Lin Lu sampai. Ia melihat Lian Sen yang sangat peduli pada lin Lu.


Lian Sen tersenyum menatap Lin Lu. Pelan-pelan ia mendekat dan bermaksud mencium Lin Lu. Fang sendiri mematung di tempatnya menyaksikan orang yang ia cintai akan mencium wanita lain. Ia merasa nggak sanggup melihatnya dan pergi begitu saja.

Lin Lu merasa kalo hidungnya gatal dan bersin. Lian Sen langsung menjauhkan wajahnya. Ia kembali ke tempat duduknya dan kembali menatap Lin Lu. Tanpa sadar senyumnya kembali mengembang.


Fang berjalan menuju halte bus sambil nangis. Ia duduk dan menatap tangannya yang terluka gara-gara membuat makanan untuk Lian Sen. Tapi sekarang semuanya sia-sia.

Mobil Zichen tahu-tahu datang. Ia melihat Fang dan segera menghampiri. Zichen duduk di sebelah Fang dan menanyakan apa yang terjadi. Fang yang kelewat sedih hanya menangis dan nggak bilang apa-apa.

Zichen berniat mengambil makanan yang Fang pegang tapi nggak diijinkan. Fang meminta agar dibiarkan sendiri. Ia mengaku lelah dan nggak tahan lagi. Ia nggak ngerti apa yang salah dengannya. Apa yang membuatnya nggak sebanding dengan Lin Lu?

Dia bahkan rela menurunkan martabatnya demi Lian Sen, melepaskan kebanggaan diri, dia juga bekerja keras untuk merubah diri kenjadi orang yang Lian Sen suka. Tapi semakin keras ia berusaha tetap saja Lian Sen nggak menyukainya.


Fang merasa kalo Lian Sen sangat menyukai Lin Lu. A ia menanyakan pada Zichen apa ia pernah melihat Lian Sen tersenyum dengan lembut? Ia sudah melihatnya dan itu untuk Lin Lu.

Zichen menatap Fang dan menenangkan. Baginya Fang jauh lebih baik dari siapapun. Mendengarnya membuat Fang kembali bersedih. Kalo aja dia bisa kembali ke masa lalu, ia berharap nggak pernah melihat Lian Sen.


Fang menyandarkan kepalanya di dada zichen. Zichen malah nggak mau kembali ke masa lalu. Dia takut nggak bisa kenal sama Fang.


Hari sudah pagi. Lian Sen tertidur di tempatnya semalam. Lin Lu bangun lebih dulu gara-gara jatuh dari sofa. Ia mengambil jas Lian Sen dan berpikir kalo pasti Lian Sen yang menyelimutinya pakai jas. Ia tersenyum membayangkannya.

Lin Lu lalu bangkit dan menghampiri Lian Sen yang sedang tidur. Ia mendekat dan memperhatikan. Menurutnya Lian sen terlihat tampan bahkan saat sedang tidur. Bulu matanya, hidungnya, bibirnya bagus. Ia semakin mendekat dan tahu-tahu Lian Sen membuka matanya.


Lin Lu terkejut dan mundur. Ia kembali duduk di tempatnya semula. Lian Sen menanyakan apa yang Lin Lu lakukan? Lin Lu gugup dan bilang nggak papa. Dia cuman mau mastiin apa Lian Sen sudah tidur apa enggak.

Ia sedikit menjauh dan melihat wajahnya dari kaca bedak. Dia belum mencuci muka dan nggak pakai make up juga. Hampir aja terlihat sama Lian Sen. Mendadak ia punya lingkaran hitam dan jerawat di wajahnya.


Lian Sen bangkit dan duduk di sebelah Lin Lu. Ia menanyakan apa yang terjadi. Lin Lu berbalik sambil menutupi wajahnya dengan tangannya. Ia melarang Lian Sen untuk mendekat dan melihat wajahnya. Ia bahkan mendorong wajah Lian Sen agar nggak melihatnya.

Lian Sen meraih tangan Lin Lu dan kembali menanyakan apa yang terjadi. Lin Lu bilang nggak ada dan melarang Lian Sen untuk melihatnya. Dia lagi nggak punya wajah saat itu. Lian Sen hanya tersenyum.

Lin Lu menyingkirkan tangannya dari wajahnya. Lian Sen berniat mengajaknya sarapan tapi Lian Sen nggak mau. Dia mengalu nggak lapar. Lin Lu bangkit dan pergi. Lian Sen nggak mencegah. Ia hanya menatap Lin Lu sambil senyum.


Ponselnya tiba-tiba bunyi. Fang menelponnya dan ngajak bicara. Lian Sen mengiyakan. Fang mengajaknya untuk bertemu di tempat biasa.


Nggak lama kemudian ia sampai di tempat Fang berada. Ia menghampiri Fang yang sudah menunggunya. Fang mengingatkan kalo mereka sering datang kesana saat kecil.

Lian Sen tersenyum terkenang saat-saat itu. Mereka senang main di taman saat itu. Fang jatuh dan lehernya patah tapi dia sama sekali nggak nangis tapi malah menakuti Zichen.

Fang menghela nafas lalu menghadap Lian Sen. Ia ingat kalo saat itu Lian Sen sangat tenang, sama seperti sekarang. Menurutnya Lian Sen punya wajah yang dingin. Ia menirukan apa yang sering Lian Sen katakan, kalo Lian Sen nggak menyukainya. Lian Sen yakin kalo mereka nggak akan bersama. Tiap kali dengar Lian Sen bilang seperti itu membuatnya menjadi gugup.

Lian Sen meminta maaf. Fang menatapnya. Ia nggak bisa apa-apa dan tetap menyukai Lian Sen. Meski Lian Sen menolaknya 10 kali ia masih memikirkan cara untuk yang kesebelas. Ia terus mendesak Lian Sen dan Lian Sen menolaknya lagi dan lagi. Dulu is merasa malu tapi sekarang nggak lagi.

Fang mengingatkan kalo sejak kecil ia nggak pernah iri pada siapapun. Sampai Lin Lu muncul. Ia hanya tahu kalo hatinya merasa iri. Ia jadi mengagumi Lin Lu. Ia iri karena Lin Lu bisa dengan mudah mendekatinya. Dan emosi Lian Sen. Fang menyinggung kalo dia sudah mengenal Lian Sen selama 20 tahun tapi nggak pernah melihatnya seperti itu sebelumnya.


Lian Sen mengatakan kalo dia telah kehilangan Fang yang penuh percaya diri. Kalo ada yanv kesebelas kalinya ia berharap agar Fang berdiri dengan bangga di depannya. Berbicara keras padanya, Shi Lian Sen, aku nggak akan melihatmu lagi.

Fang mengabulkan keinginan Lian Sen. Ia mengundangnya kesana karena ingin ia mendengar kalo mulai hari ini, saat ini, ia Fang Qiao nggak akan menyukainya lagi. Fang nampak sangat berat mengatakannya. Lian Sen mengambil saputangan dari dalam saku jasnya dan memberikannya ke Fang.

Fang nggak nyangka Lian Sen akan memberinya saputangan. Tapi ia nggak mau menerimanya. Ia memilih pergi dan membiarkan air matanya jatuh begitu saja.


Nggak jauh dari sana ternyata ada Zhichen yang sedari tadi melihat Fang bersama dengan Lian Sen. Ia nampak lega karena Fang akhirnya bersedia melepaskan Lian Sen.


Di toko para karyawan bergosip, mereka mendengar kalo Huanzhen akan ditutup. Salah satunya merasa kalo itu nggak mungkin karena Huanzhen selama ini sudah mengalami banyak badai.

Lin Lu sendiri sibuk menelpon para konsumen yang mengajukan tuntutas atas produk palsu tapi nggak ada yang mau menjawabnya. Mereka langsung menutup telpon saat Lin Lu mengatakan kalo ia adalah karyawan Huanzhen. Liang melihatnya dari kejauhan dan merasa khawatir.


Lin Lu keluar menemui nyonya Zhou, wanita yang membuat keributan waktu itu. Ia meminta waktu 3 menit untuk membicarakan tentang Huanzhen. Nyonya Zhou nggak mau menanggapi. Dia malas mengatakan sepatah katapun pada Lin Lu yang berkulit tebal.

Lin Lu menahannya dan memberitahu kalo Huanzhen nggak pernah memproduksi barang palsu. Wanita itu malah makin kesal dan menunjukkan wajahnya yang masih belum sembuh. Ia nggak mau mendengar Lin Lu lagi dan pergi begitu saja.


Lin Lu nggak putus asa. Ia menyeberang jalan sambil menelpon konsumen yang lainnya. Di kejauhan seorang pria menyetir sambil melihat ponsel. Ia hampir menabrak Lin Lu.

Di saat-saat terakhir seseorang menarik Lin Lu dan menyelamatkannya. Orang itu adalah Lian Sen. Lian Sen melarangnya menelpon di jalan. Bahaya. Apa yang lebih penting daripada nyawa? Tanpa sadar Lin Lu memgatakan kalo ia memikirkan Lian Sen.

Mereka saling menatap sampai dua hati muncul dari keduanya. Cupid datang dan memanah hati keduanya lalu muncul hati-hati kecil lainnya.

Akhirnya Fang mau melepaskan Lian Sen juga setelah lama bertepuk sebelah tangan. 20 tahun? Lama juga, ya?

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate