Tuesday, April 2, 2019

Published April 02, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 11 part 1


Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Lin Lu berbaring di sofa. Dia bingung memikirkan apa yang Lian Sen pikirkan tentang apa yang dia katakan tadi siang. Saat Lian Sen menanyakan hal yang lebih penting daripada nyawa. Dan tanpa sadar Lin Lu menjawab, mikirin kamu.

Lin Lu tersenyum malu. Gimana bisa dia bilang begitu? Kebagusan.


Di kamarnya Lian Sen juga nggak bisa tenang. Dadanya sakit dan jantungnya berdegub kencang. Seperti Lin Lu, dia juga memikirkan apa yang dikatakan Lin Lu padanya.

Lian Sen turun dari tempat tidur. Ia melihat beruang dari Lin Lu yang menghadapnya. Ia pun memutarnya agar nggak menatapnya.


Lian Sen turun mau mengambil minum. Lin Lu langsung menyinggung tentang perkataannya tadi siang. Ia harap Lian Sen nggak salah paham. Maksudnya nggak seperti itu. Ia memikirkan apakah Lian Sen sudah menemukan solusinya?

Lian Sen nggak bilang apa-apa dan malah nampak kesal. Lin Lu merasa kalo sekarang sudah hampir pagi. Dia akan tidur dulu. Lian Sen malah mengejek. Salah paham? Siapa? Ia lalu berjalan menuju kulkas.

Lin Lu merasa kalo Lian Sen pasti sudah mengalami banyak kesulitan dua hari ini. Ia berpikir kalo ia nggak bisa mengganggu Lian Sen lagi. Lin Lu mengambil ponselnya dan mencari sesuatu di mesin pencari.

Lian Sen selesai mengambil minum dan akan kembali ke kamarnya. Ia melihat Lin Lu yang masih belum tidur padahal tadi bilang mau tidur. Sadar dirinya sedang dilihat, Lin Lu lalu meletakkan ponselnya dan pura-pura tidur. Lian Sen hanya menghela nafas lalu naik ke atas.


Lin Lu kembali mengambil ponselnya saat Lian Sen sudah nggak lagi terlihat. Ia kembali mencari cara untuk menghibur Lian Sen dan menemukan beberapa. Musik? Makanan?

Di kamarnya Lian Sen juga sedang browsing. Nggak tahu juga apa yang sedang Lian Sen cari. Tapi saat ia mendengar Lin Lu nyanyi ia malah tersenyum.

Lian Sen turun dan melihat apa yang sedang Lin Lu lakukan di bawah. Ternyata Lin Lu sedang memasak sambil mendengarkan musik lewat headphone.

Lian Sen menghampirinya. Ia melihat daging yang Lin Lu goreng dan memberitahu kalo dagingnya akan terlalu matang kalo Lin Lu menggorengnya seperti itu.

Lin Lu yang sedang mengaduk sup langsung berbalik dan melepaskan headphone-nya. Ia menanyakan apa yang Lian Sen bilang tadi? Lian Sen mengulangi kalo dagingnya matang. Lin Lu merebut capit gorengan dari tangan Lian Sen dan menyuruhnya untuk melihat sup wortel di belakang.

Lian Sen mengaku nggak makan wortel. Lin Lu tersenyum. Ia akan memakannya kalo Lian Sen nggak makan. Lian Sen menurut dan membuka tutup panci sup.


Nggak lama kemudian masakan Lin Lu siap. Ia menata semuanya di meja makan untuknya dan untuk Lian Sen. Lian Sen tersenyum padanya dan bertanya apa dia lapar?

Lin Lu bilang enggak. Ia melihat kalo Lian Sen telah bekerja keras belakangan ini. Tadi ia melihat di internet kalo makanan bisa meredakan tekanan. Lian Sen hanya tersenyum.

Lin Lu menghela nafas dan mengaku sangat lapar. Dia benar-benar khawatir ... . Lian Sen mengambil pisau dan garpunya lalu menyuruh Lin Lu untuk makan. Lin Lu menurut. Ia melakukan sama seperti yang Lian Sen lakukan. Karena nggak terbiasa, Lin Lu merasa kesulitan.

Lian Sen tahu-tahu mengambil piring Lin Lu dan mengganti dengan piringnya. Lin Lu tersenyum dan memakan makanannya.

Lian Sen tiba-tiba menanyakan kemana Lin Lu kemarin siang? Lin Lu kaget dan sampai tersedak. Ia mengatakan kalo ia nggak kemana-mana. Hanya jalan-jalan saja. Lian Sen nggak puas dan kembali bertanya siapa yang nelpon Lin Lu di tengah jalan?

Lin Lu berbohong dan memberitahu kalo itu... ibunya. Lian Sen bertanya lagi apa yang dikatakan ibu Lin Lu sampai membuatnya buru-buru nyeberang?

Lin Lu mengarang kalo ibunya bilang cuaca panas dan menasrhatinya agar hati-hati agar nggak tersengat matahari. Lian Sen malah tertawa mendengar penjelasan Lin Lu. Lin Lu tersinggung. Kenapa Lian Sen tertawa?


Lian Sen menasehati agar Lin Lu jangan mengangkat telpon saat menyeberang. Nggak aman. Eh, dasar Lin Lu. Dia malah menanyakan gimana kalo Lian Sen yang nelpon?

Lian Sen tersenyum sambil bilang kalo dia akan menelpon balik saat Lin Lu selesai nyeberang. (Ough...so sweet).

Lin Lu tersenyum. Lian Sen tahu-tahu ngambil tissue dan mengelap bibir Lin Lu. Dalam hati Lin Lu berbunga-bunga. Apa yang dia lakukan? Apa Lian Sen sedang perhatian padanya?


Hari sudah pagi. Lian Sen siap berangkat dengan mobilnya. Lin Lu juga mau berangkat kerja. Lian Sen menyuruhnya untuk naik ke mobilnya. Lin Lu menolak.

Hari ini adalah hari istimewa. Kalo mereka muncul bersama maka para wartawan akan mengejar lagi. Ia akab naik bus saja. Lian Sen masih nggak nyerah. Ia akan mengantar Lin Lu sampai halte.

Lin Lu kembali menolak. Ia berjalan meninggalkan Lian Sen. Lian Sen manggil Lin Lu lagi san memgingatkan kalo dia sudah terlambat. Naik, gih! Lin Lu mengangguk.


Mereka sudah hampir sampai di halte tapi nggak tahu kenapa Lian Sen malah nggak berhenti. Lah, kelewat, kan??!! Lian Sen santai. Disana dilarang parkir.

Lin Lu bingung. Dia harus ngapain? Secara bus hanya datang 15 menit sekali. Kalo dia nunggu dia bisa telat. Ia lalu minta diturunkan di halte depan. Lian Sen tetap nggak mau. Nggak bisa. Lin Lu kesal sementara Lian Sen senyum-senyum mulu.


Lian Sen mengantar Lin Lu sampai toko dan itu terlihat oleh Liang. Lin Lu lega ia sampai tanpa terlambat jadi Lin Lu nggak perlu mengantarnya lagi. Ia mendorong Lian Sen agar segera pergi.

Lian Sen tersenyum. Dia nggak ngantar Lin Lu, kok. Dia ingin masuk untuk membeli sarapan. Lin Lu hanya terlalu banyak mikir. Lin Lu kesal. Oh??? Mereka langsung masuk bersama.


Lin Lu membersihkan produk sambil melamun memikirkan masalah produk palsu yang menimpa Lian Sen. Gimana caranya dia bisa bantu? Gara-gara nggak fokus, produk yang Lin Lu pegang sampai jatuh.

Liang melihatnya dan merasa khawatir. Ia mendekat dan bertanya apa Lin Lu baik-baik saja? Lin Lu mengaku kalo sia baik-baik saja. Liang nggak perlu khawatir. Liang makin khawatir saat melihat wajah Lin Lu. Apa Lin Lu tidur nyenyak kemarin?

Belum juga Lin Lu menjawab ponselnya sudah keburu bunyi. Lin Lu nampak sangat senang mendapat telpon itu. Seseorang mengajaknya untuk bertemu beaok siang jam 12 siang. Liang menanyakan yang terjadi?

Lin Lu memberitahu kalo pelanggan yang sebelumnya meminta ganti rugi akhirnya setuju untuk bertemu dengannya. Dia akan membantu mereka untuk bersaksi.


Liang senang mendengarnya. Ia akan menemani Lin Lu saat bertemu dengan orang itu. Lin Lu menolak. Ia akan pergi sendiri. Liang mengingatkan kalo dia adalah manajer toko.

Orang yang harusnya maju adalah dirinya. Lin Lu akhirnya setuju. Mereka akan pergi bersama. Liang measa cemburu melihat Lin Lu sangat peduli pada Lian Sen.

Liang memberitahu kalo harusnya itu jadi tanggung jawabnya selaku manajer toko. Nggak tahu kenapa sejak ia bekerja di Huanzhen dan menjadi manajer toko, selalu ada banyak masalah yang terjadi. Dan diantara banyak toko hanya toko mereka yanh punya banyak masalah.

Lin Lu curiga kalo ada seseorang yang ingin mengambil alih posisi manajer Liang. Ia lalu mulai menaruh curiga ke orang-orang di sekitarnya. Cindy?

Liang menyangkalnya. Ia malah berpikir kalo mungkin saja Huanzhen benar-benar melakukannya. Lin Lu nggak terima. Menurutnya Huanzhen nggak akan pernah memproduksi produk palsu. Ia yakin kalo Shi Lian Sen nggak akan pernah melakukan hal semacam itu.


Fang datang ke kantor Lian Sen. Ia menanyakan apa Lian Sen punya waktu besok siang? Lian Sen nggak langsung menjawabnya.

Fang melanjutkan kalo dia hanya ingin mengobrol sebelum pergi. Lian Sen nampak terkejut dengar Fang akan pergi. Kemana dia akan pergi?

Fang memberitahu kalo dia hanya ingin menenangkan hatinya. Tapi sebelumnya ia ingin makan bersama Lian Sen san ayahnya.

Lian Sen nampak berat untuk mengiyakan. Fang menyindir kalo Lian Sen harusnya nggak menolak dengan kejam permintaan kecilnya.

Lian Sen mengiyakan. Ia meminta Fang untuk memberitahukan waktu dan tempatnya. Ia janji akan datang tepat waktu. Fang lega. Ia lalu pamit. Lian Sen seperti merasa sedih akan berpisah dengan Fang.

Wah seneng lihatnya Lian Sen sama Lin Lu sudah mulai peduli satu sama lain. Mana Lian Sen juga romantis banget ke Lin Lu. Bawaannya pengen deket Lin Lu deket mulu sama dia.

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate