Tuesday, April 2, 2019

Published April 02, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 9 part 1



Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Lin Lu jatuh dari atas sofa. Lian Sen menghampirinya dan menatapnya dengan senyum yang seolah mengejek. Lin Lu buru-buru bangkit dan berdiri di atas sofa. Ia merapikan rambutnya dan bertanya sejak kapan Lin Lu berdiri di sana?

Lian Sen tersenyum dan mengejek kalo dia tahu Lin Lu sekarang nggak punya wajah untuk melihat seseorang. Apa sekarang sudah terlambat? Ia memberitahu kalo ia pintar mengeluarkan ekor. Lin Lu menggaruk-garuk lehernya. Malu banget kayaknya.

Lian Sen mengingatkan kalo sekarang sudah malam. Kenapa Lin Lu masih belum tidur? Lin Lu santai, kenapa dia harus tidur? Dia kan sudah tidur siang. Lian Sen sendiri kenapa belum tidur? Malah berdiri nakutin orang.

Lian Sen merasa tertarik. Apa dia membuat Lin Lu takut? Ia lalu meminta maaf. Lin Lu nggak ngerti kenapa tiba-tiba Lian Sen peduli dengan tidurnya? Lian Sen nggak sedang pingin tidur dengannya, kan? Tuduh Lin Lu sambil menunjuk Lian Sen.

Lian Sen meminta Lin Lu agar nggak berpikir yang berlebihan. Lian Sen berbalik dan mematikan lampu lalu kembali ke kamarnya. Lin Lu protes. Dia kan masih belum tidur. Kenapa matiin lampu? Ia mengacak-acak rambutnya lalu duduk.




Hari sudah pagi. Fang berdiri di depan rumah Lian Sen dan mondar-mandir. Zichen melihatnya dari kejauhan dan mengira kalo ia adalah Lin Lu. Secara penampilan Fang mirip banget sama gayanya Lin Lu.

Ia menelpon Lian Sen dan mengingatkan agar nggak menyalahkannya karena bertindak nggak bener. Ia memberitahu kalo istri Lian Sen yang imut kembali melarikan diri. Dia sedang mondar-mandir di tempat ia janjian dengan Fang. Ia meminta agar Lian Sen segera membawa Lin Lu pergi.

Fang mendengar suara Zichen lalu berbalik dan menegurnya. Kenapa masih disana? Zichen nampak nggak nyangka kalo dia adalah Fang. Ia mendekat dan melihat Fang dari kaki sampai kepala. Dia sedang pakai gaya apa hari ini? Gaya jaman dulu? Dan kenapa penampilannya seperti Lin Lu? Apa...??? Fang kesal dengarnya dan menyuruh Zichen untuk diam. Dia ngajak Zichen untuk segera pergi.

Zichen malah bingung. Memangnya mereka mau kemana? Fang mengingatkan sebelumnya kalo dia sudah bilang minta ditemani untuk menyapa tetangga baru setelah dia pindah. Zichen nggak ngira kalo Fang beneran pindah. Dikiranya bercanda, ternyata beneran? Kapan Fang pindah? Apa dia ingin makin dekat dengannya?


Fang menegaskan kalo pertama,  dia nggak sedang bercanda sama Zichen. Dia serius. Kedua, dia pindah tadi malam. Dan ketiga, ia pindah di sebelah kiri, kiri dan kirinya lagi dari rumah Zichen.

Zichen mengulangi sambil memahami. Kiri, kiri dari kiri rumahnya... . Lah, bukannya itu sebelah rumahnya Sen Ge? Ia mengaku nggak setuju. Fang nggak ngerti kenapa Zichen harus nggak setuju?

Zichen melanjutkan kalo rumah itu terlalu sepi, gelap dan nggak ada popularitasnya. Ia merasa kalo lebih baik Fang pindah ke rumahnya aja. Rumahnya lebih cerah dan lebih hidup. Ditambah lagi daerahnya sangat ramau dan ia bisa menjaga Fang.

Ia lalu menarik Fang dan mau membawanya ke rumahnya. Fang nggak mau. Siapa orang yang sudah membawa 2 senter di malam hari? Ia mengatakan kalo akan mempertimbangkannya lagi nanti.


Fang melepaskan tangan Zichen lalu kembali ke rumah Lian Sen. Zichen terpaksa mengikutinya. Fang menekan bel. Nggak lama kemudian Lin Lu datang dan membukakan pintu. Ia mempersilakan mereka untuk masuk.

Ia melihat pakaian Fang hari ini sama dengannya. Fang memberitahu kalo dia punya kabar baik. Hari ini dia pindah di sebelah rumah Lin Lu. Lin Lu merasa kalo itu bagus. Sekali lagi ia melihat pakaian yang Fang pakai dan masih nggak ngerti kenapa bisa sama dengannya?

Fang kembali mengalihkan. Sekarang mereka tetanggaan dan minta agar Lin Lu merawatnya. Apa Lin Lu nggak keberatan kalo ia datang ke rumahnya? Lin Lu jengaku nggak keberatan. Ia justru akan menyambut Fang.

Lin Lu memasukkan makanan yang ia bawa ke mulutnya dan mengajak Fang masuk. Ia ingin memberitahu tentang situs website yang ia lihat terakhir kali.

Zichen masih berdiri di pintu. Ia nggak ngerti kenapa Fang ingin mempelajari orang lain dan nggak pernah melihat ke belakang? Ia masuk dan melihat Fang dan Lin Lu sudah makin akrab mengobrol di sofa.


Lin Lu menunjukkan bukunya pada Fang. Fang lebih tertarik pada celana Lin Lu dan menanyakan dari mana ia membelinya? Lin Lu mengiyakan. Ia mengambil ponselnya dan menunjukjannya pada Fang.

Nggak lama kemudian Lian Sen pulang. Ia menghampiri Lin Lu dan Fang. Fang melambaikan tangannya dan menyapa Lian Sen. Kenapa dia pulang cepat?

Lian Sen duduk di samping Lin Lu dan merangkulnya. Ia mengambil ponsel Lin Lu dan melarangnya main ponsel sepanjang hari. Nggak bagus buat mata. Apa yang harus mereka lakukan? Lin Lu malah nggak ngerti kenapa Lian Sen tiba-tiba baik padanya?


Lian Sen mengusap bibir Lin Lu dan memberitahu kalo dia pesan makanan siap antar hari ini. Ia membisiki Lin Lu agar bejerja sama dengannya.

Lin Lu langsung tersenyum habis dengar kata kerja sama. Lian Sen menanyakan apa yang akan Lin Lu lakukan sore ini? Lin Lu bilang tidur.

Fang memberitahu kalo hari ini adalah hari ia pindah rumah. Belakangan ia sedang suka hot pot dan menawarkan akan membeli bahan-bahannya. Lin Lu langsung setuju. Zichen mengaku nggak bisa ikut. Ia mau pergi. Lin Lu melihat kalo Zichen beneran pergi.


Fang meminta agar mereka nggak usah memperdulikan Zichen dan mengajak Lin Lu untuk makan. Lian sen menolak dan memberitahu kalo dia sudah makan. Ia memberitahu kalo belakangan Lin Lu sedang nggak enak badan jadi nggak bisa makan hot pot.

Lin Lu langsung paham dan pura-pura batuk. Ia membenarkan dan memberitahu kalo sudah dua hari ini dia nggak enak badan, jadi lain kali saja makan-makannya. Fang lalu pamit. Ia mengingatkan agar Lin Lu main ke rumahnya kapan-kapan.


Lin Lu buru-buru mendorong Lian Sen setelah Fang nggak terlihat lagi. Ia memberitahu kalo Lian Sen sudah melanggar aturan. Lian Sen beralasan kalo tadi keadaannya mendesak. Ia memperingatkan kalo lain kali Lin Lu harus berhenti ketemuan sama Fang.

Lin Lu protes. Kenapa emang. Menurutnya Fang sudah banyak berubah. Sekarang ia merasa akrab kalo melihat Fang. Seolah mereka sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Mereka juga sudah membuat kesepakatan.

Lian Sen langsung memotong. Kesepakatan apa maksudnya? Ia menyindir kapan Lin Lu membuat janji untuk menceritakan kisah mereka pada Fang? Lin Lu memberitahu kalo Lian Sen salah paham. Ia janji nggak akan cerita apa-apa pada Fang. Dia kan nggak b*doh.

Lian Sen malah tersenyum meledek. Dengan IQ Lin Lu? Rasanya sangat sulit. Ia lalu bangkit mau ke atas. Lin Lu langsung berdiri habis dengar ejekan Lian Sen. Dikiranya dia nggak dengar apa? Lian Srn mau bilang kalo dia b*doh, kan?


Lian Sen yang sudah mau naik tangga menoleh ke Lin Lu. Ia membenarkan. Dia lupa ngasih tahu Lin Lu kalo Fang punya anjing bulldog di rumahnya. Kalo Lin Lu mau kesana silakan saja. Ia lalu kembali menaiki tangga.

Lin Lu sesumbar kalo dia nggak takut anjing. Ia lalu duduk. Bukannya itu hanya anjing. Eh, Lin Lu jadi ngeri sendiri. Ia mengangkat kakinya. Iya, dia takut anjing. Dia nggak akan pergi.


Lian Sen pergi ke klub malam bersama dengan Zichen. Zichen nampak menikmati suasana tapi nggak begitu dengan Lian Sen yang hanya duduk dan minum. Ia mengingatkan kalo Zichen bilang suasana hatinya sedang buruk tapi yang ia lihat Zichen malah tampak bahagia sekarang. Kalo nggak ada hal lain dia mau pergi dulu.

Zichen merangkul Lian Sen dan melarangnya pergi. Ia minta ditemani. Ia mengaku sudah lama punya masalah di hatinya. Hari ini dia ingin bertanya pada Lian Sen, antara dirinya dan Lian Sen siapa yang paling tampan? (Lian Sen). Diantara mereka siapa yang lebih baik? (Lian Sen). Diantara mereka siapa yang penampilannya lebih bagus? (Lian Sen). Menurut Zichen sih dirinya.

Lian Sen memberitahu kalo Fang belum melihatnya saja. Zichen malah mau melepaskan pakaiannya biar Fang bisa melihatnya. Lian Sen buru-buru melarangnya dan memintanya untuk memakai bajunya.

Zichen merasa putus asa. Sekalipun ia telanjang di depan Fang, Fang juga nggak akan melihatnya. Lian sen menghela nafas. Ia mengambil ponselnya dan menelpon Maggie, menyuruhnya untuk membawa mobil ke depan.

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate