Wednesday, April 3, 2019

Published April 03, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 12 part 2


Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Lin Lu pulang ke rumahnya. Jing Jing sedang menjemur pakaian di atap. Lin Lu menghampirinya dan berniat membantu. Jing Jing ketus bilangnya nggak perlu. Lin Lu lalu menanyakan Liang. Jing Jing nampak kesal. Ngapain Lin Lu nanya?

Lin Lu tersenyum. Dia tahu Jing Jing kesal karena pemecatan Master Liang. Dia sendiri juga sangat marah. Ia datang untuk minta maaf pada Liang.

Jing Jing menatap Lin Lu dengan tatapan penuh amarah. Apa gunanya minta maaf? Dikiranya Liang Ge nggak akan dipecat kalo Lin Lu minta maaf? Katanya Lin Lu punya hubungan dengan Presdir, tapi kenapa Lin Lu masih mengganggu Liang Ge?


Lin Lu mengingatkan kalo dia nggak tahu apa-apa tentang masalah itu. Lagian juga dia nggak ingin Liang Ge dipecat. Jing Jing menyuruh Lin Lu untuk menjauh dari Liang. Katanya Lin Lu punya pacar, tapi kenapa masih menginginkan Liang Ge? Apa Lin Lu nggak terpikir kalo perilakunya sangat memalukan?

Lin Lu sedih mendengarnya. Menurutnya Jing Jing ngomongnya keterlaluan. Kenapa ngomongnya gitu? Jing Jing nggak terima. Keterlaluan?

Akhirnya sekarang dia tahu kayak apa Lin Lu sebenarnya. Lin Lu orang yang suka mengayuh dua perahu. Makan di mangkuk sambil memandangi panci. Apa belum cukup Lin Lu punya pacar seorang Presdir? Sampai masih menginginkan Liang Ge? Dikiranya seisi dunia miliknya?


Liang kembali dari luar dan nggak sengaja mendengar pertengkaran Lin Lu dan Jing Jing. Lin Lu susah nggak tahan lagi dan menyatakan kalo dia nggak menginginkan Liang. Dia juga nggak punya hubungan apapun sama Shi Lian Sen.

Jing Jing nggak ngerti. Apa maksudnya nggak punya hubungan? Gimana bisa? Dan kalo itu benar, kenapa mereka bisa hidup bersama? Lin Lu makin emosi dan akhirnya mengatakan yang sebenarnya kalo dia punya hubungan kontrak dengan Lian Sen. Jing Jing nggak percaya. Apa Lin Lu sedang main drama?

Liang seakan syok. Kontrak? Ia yang ingin mendatangi mereka memilih nggak jadi dan akhirnya pergi lagi.

Jing Jing lalu menanyakan kapan pertama kali Presdir melihat Lin Lu? Ia akhirnya tahu kalo Lin Lu memang aktris terbaik. Dia sudah membohonginya selama bertahun-tahun. Lin Lu yang sudah mau nangis menyangkalnya. Dia nggak melakukannya.

Jing Jing melanjutkan kalo dia selalu menganggap Lin Lu sebagai saudaranya tapi... . Lin Lu nggak tahan. Ia membentak Jing Jing, cukup! Jing Jing menyatakan kalo dia nggak ingin Lin Lu datang lagi kesana. Jangan lagi mengganggu mereka. Ia lalu menyuruh Lin Lu untuk pergi. Lin Lu syok. Ia pun pergi.


Liang datang menemui CEO Sally. Sekretaris menghadangnya tapi ia tetap masuk. CEO Sally menyuruh sekretarisnya untuk keluar. Ia berbasa-basi menanyakan angin apa yang membawa Liang padanya.

Liang malas. Ia merasa kalo CEO Sally sudah mengetahuinya. CEO Sally bangkit. Ia menduga karena kasus produk palsu. Liang protes kenapa CEO Sally membawa-bawa dirinya?

CEO Sally bangkit dan menghampiri Liang. Ia berdiri di depan Liang dan tersenyum. Ia mengaku nggak melakukannya. Liang sendirilah yang datang padanya. Ia menepuk Lengan Liang dan memanggilnya Xiao Zhi.


Ia tahu kalo Liang menyalahkannya. Tapi dia adalah ayahnya. (Apa???) Jadi dia nggak akan menyakiti Liang. CEO Li menuang minuman dan membawanya pada Liang. Liang mengaku tersentuh. Tapi apa CEO Li memikirkannya sebelum mengatakannya?

CEO Li mengiyakan. Selama Liang mau bergabung bersama Sally maka ia akan memberikan dukungan penuh. Dan membiarkannya bersaing dengan Shi Lian Sen. Liang menanyakan syaratnya. CEO Sally mengaku nggak punya syarat apa-apa. Mereka hanya perlu mengembangkan Sally bersama-sama lalu menginjak Huanzhen. Bukankah itu tujuan mereka?


CEO Sally memberikan salah satu gelas pada Liang. Liang menatapnya dan mengatakan kalo dia nggak akan minta gaji dan ia akan melakukan apapun yang ingin ia lakukan. CEO Sally merasa kalo Liang sangat percaya diri.

Liang mengambil gelasnya dan bertanya apa CEO Li nggak percaya padanya? CEO Li tersenyum. Ia akan percaya karena Liang adalah putranya. Mereka bersulang lalu meminum minuman masing-masing.


Zichen datang ke rumah Fang sambil membawa buket bunga. Ia berlatih untuk meminta maaf pada Fang atas perlakuan kurang ajarnya semalam. Nggak seharusnya dia mencium Fang dalam keadaan mabuk.

Zichen lalu berbalik dan melihat ibu Fang. Apa bibi sudah mendengarnya? Bibi mengiyakan. Ia tahu intinya. Zichen merasa nggak nyaman. Ia menanyakan dimana Fang? Ibu Fang memberitahu kalo Fang sedang ada di luar negeri.

Zichen terjejut. Ibu Fang nggak tahu kalo Fang nggak bilang ke Zichen. Zichen lalu menanyakan ke negara mana Fang pergi? Ibu Fang mengatakan kalo di Eropa. Tapi persisnya dimana dia nggak tahu.

Zichen mengiyakan. Ia berbohong mengatakan kalo Fang sudah memberitahunya tapi dia lupa. Ia lalu pamit.

Ibu Fang mengangguk mempersilakan. Zichen yang sudah berbalik kembali lagi dan memberikan bunganya pada ibu Fang. Ibu Fang senang melihatnya. Toh suaminya juga sudah lama nggak memberikan bunga padanya.


Sudah jam 12 malam tapi nggak ada tanda-tanda Lin Lu bakal pulang. Lian Sen resah menunggu. Ia khawatir karena Lin Lu belum pulang. Apa Lin Lu sangat marah?

Ia meletakkan bukunya dan mengambil ponsel. Ia mengirim pesan ke Lin Lu. Kamu dimana, sudah malam. Kenapa belum pulang? Apa mau dijemput?

Lian Sen memikirkannya lagi. Sebaiknya dia nggak menjemput Lin Lu. Terlalu berlebihan. Ia menghapus semua pesannya. Apa Li Lu masih belum tahu jalan pulang? Di hapus lagi.

Lian Sen bingung mesti nulis apa. Akhirnya ia meletakkan ponselnya kembali. Waktu terus berlalu. Lian Sen sampai ketiduran. Saat ia bangun Lin Lu masih belum pulang juga. Ia merasa harus memberlakukan jam malam ke Lin Lu.


Sudah jam 3 pagi. Lian Sen nggak bisa diam aja di rumah. Ia bangkit dan berniat mencari Lin Lu. Ia takut terjadi sesuatu padanya.

Bel pintu tahu-tahu bunyi. Lian Sen senang dan mengira kalo itu Lin Lu yang pulang. Kedepannya Lin Lu nggak boleh pulang kalo nggak bawa kunci. Lah, ternyata yang datang Zichen. Lian Sen membukakan pintu dan bertanya ada apa?

Zichen masuk. Mereka duduk di sofa. Zichen langsung menanyakan ke negara mana Fang pergi? Lian Sen mengaku ngfak tahu. Zichen nggak percaya. Fang sangat mencintai Lian Sen jadi nggak mungkin Fang nggak ngasih tahu Lian Sen.


Lian Sen menatap Zichen dan memintanya untuk tenang. Zichen mengaku nggak bisa tenang. Fang pergi tanpa bilang apa-apa. Dia juga masih belum setuju. Lian Sen meminta agar Zichen memberikan ruang pada Fang untuk sendiri.

Zichen kesal karena Lian Sen nggak tampak khawatir sedikitpun. Gimana kalo Fang mengalami kecelakaan? Lian Sen santai. Menurutnya Fang bukan orang yang seperti itu. Zichen lalu menanyakan orang seperti apa Fang buat Lian Sen?

Zichen menyalahkan Lian Sen atas apa yang terjadi pada Fang. Fang nggak suka pedas tapi dia pura-pura menikmatinya. Fang suka memakai pakaian merk terkenal tapi pergi ke pasar untuk membeli pakaian. Dia terluka dan dengan putus asa menghibur diri sendiri agar terlihat kuat. Semua itu hanya karena dia menyukai Lian Sen. Dia sudah berkorban banyak. Tapi bisa nggak Lian Sen memahaminya sekali saja?

Lian Sen diam. Ia lalu meminta maaf. Zichen hanya tersenyum mendengarnya. Hal yamh paling nggak dia suka adalah sikap nggak peduli Lian Sen. Kalo nggak gara-gara dia, maka Fang nggak akan pergi.


Lin Lu pulang. Zichen menanyakan apa Lian Sen mencintai Lin Lu? Lian Sen meminta agar Zichen nggak bawa-bawa Lin Lu karena itu nggak ada hubungannya.

Lin Lu nampak terluka mendengarnya. Zichen menyimpulkan dari apa yang Lian Sen katakan ia merasa kalo Lin Lu itu orang luar. Lalu kenapa Lian Sen memilih Lin Lu dan bukannya Fang?

Lian Sen diam dan nggak mau menjawabnya. Zichen mengaku sangat kecewa pada Lian Sen. Lian Sen benar-benar nggak tahu apa itu cinta. Nggak punya hati.

Zichen lalu bangkit dan mau pergi. Ia bertemu dengan Lin Lu di pintu. Xiao Lu? Lin Lu buru-buru berbalik lalu pergi.


Lian Sen langsung bangkit begitu dengar nama Lin Lu. Ia berlari mengejar Lin Lu. Tapi Lin Lu sudah nggak ada. Lian Sen lalu datang ke rumah sakit tempat Lin Cheng di rawat. Lin Lu juga nggak ada di sana. Ia menelpon Lin Lu tapi nggak diangkat.

Ia lalu pergi ke tempat makan yang pernah ia datangi bersama Lin Lu hari itu. Lin Lu juga nggak ada di sana. Lian Sen terus menghubungi Lin Lu tapi nggak dijawab. Akhirnya ia kembali ke rumah. Tapi masih belum ada tanda-tanda kalo Lin Lu sudah pulang. Ia pun pergi lagi.


Lin Lu sendiri ada di pantai yang mempertemukannya dengan Lian Sen. Matanya sembab. Ia mengingat semua yang ia alami bersama Lian Sen. Dari saat ia jatuh di pelukan Lian Sen saat pertama kali datang ke rumahnya, saat Lian Sen menggenggam tangannya untuk menguatkannya, saat Lian Sen menyelimutinya, saat mereka bangun setelah tidur bersama, saat ulang tahun ayah Lian Sen. Tanpa sadar ia tersenyum mengingat senyuman Lian Sen saat itu.


Ia lalu teringat kenangan lainnya. Saat ia terjatuh di pelukan Lian Sen. Waktu itu juga dipantai itu, saat Lian Sen menciumnya di pesta pertunangan, saat ia meluk Lian Sen pas mabuk, saat Lian Sen melindunginya saat seorang pelanggan berniat menyiram minuman ke Lin Lu, saat Lin Lu mau tertabrak mobil, saat Lin Lu mengantuk.


Ia teringat kenangan sedihnya juga. Saat melihat Lian Srn bersama Fang dan mereka tampak sangat dekat, saat ia mabuk dan muntah di pakaian Lian Sen, saat mereka bertengkar, saat Lin Lu datang ke rumah Lian Sen dan dia menolak untuk menerima kontrak itu, saat ia putus asamencari uang untuk biaya operasi Lian Cheng.

Lin Lu yang sedang asik dalam kenangan sampai nggak menyadari kedatangan Lian Sen. Mereka sama-sama mau bilang sesuatu. Lin Lu menyinggung tentang Fang sementara Lian Sen soal Liang. Lian Sen mempersilakan Lin Lu untuk ngomong duluan.


Lin Lu mengatakan kalo meteka adalah 2 garis paralel dan kertas kontrak adalah persimpangannya. Dan gimanapun juga mereka adalah dua orang dari dunia berbeda. Belakang banyak hal yang terjadi yang membuat orang-orang di sekitar mereka terluka. Ia mengajak Lian Sen untuk kembali ke titik semula. Kembali ke kehidupan masing-masing.

Lian Sen langsung menatap Lin Lu. Dia nggak nyangka kalo Lin Lu mengatakannya. Lin Lu melanjutkan kalo ia ingin mereka saling nggak mengganggu. Lian Sen nggak ngerti apa yang Lin Lu katakan.


Lin Lu berbalik dan menatap Lian Sen. Ia memperjelas kalo ia ingin membatalkan kontrak. Lian Sen nggak menjawabnya. Mereka hanya saling menatap dan nggak ada yang ngomong lagi.

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate