Tuesday, April 2, 2019

Published April 02, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 10 part 1



Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Suasana jadi nggak enak setelah Lian Sen kena siram teh. Dia bilang ke wanita itu kalo ia akan memikul tanggung jawab yang sesuai. Dan ia juga akan mengambil jalur hukum yang sesuai atas apa yang wanita itu lakukan pada pacarnya.

Wanita itu nampak takut dan mengaku nggak sengaja. Dia malah menuduh Lian Sen yang telah menjual barang palsu. Jangan mengancamnya dengan hukum. Wanita itu meletakkan gelas yang ia pegang lalu pergi.

Orang-orang yang ada di sekitar merasa sanksi dan bertanya-tanya apa itu palsu? Satu-persatu dari mereka juga ikut pergi.


Lian Sen menanyakan keadaan Lin Lu. Lin Lu mengatakan kalo ia baik-baik saja. Ia melihat pakaian Lian Sen yang basah dan membuatnya merasa bersalah.

Lian Sen memberitahu kalo itu hanya hal sepele. Lin Lu langsung mengulurkan tangannya dan mau membuka pakaian Lian Sen. Lian Sen bingung. Lin Lu mau apa?

Lin Lu mengingat kalo Lian Sen nggak suka kotor dan ia berniat mencucinya. Dia jamin akan sama seperti sebelumnya. Lian Sen tersenyum dan bilang nggak usah.

Lin Lu yang merasa bersalah meyakinkan kalo kali ini dia nggak akan membuat masalah lagi. Dan lagi masalah itu kan gara-gara dia.

Lian Sen tersenyum dan memberitahu kalo itu nggak ada hubungannya dengan Lin Lu. Perusahaannya akan menyelidiki masalah produk palsu itu. Penerimaan dan pengawasan barang juga mencari dimana letak kesalahannya dan akan segera mengetahuinya.


Lin Lu lega mendengarnya. Tapi ia merasa kalo Lian Sen harus melepas pakaiannya. Lian Sen menurut. Sesuai permintaan Lin Lu ia melepas jasnya dan memakaikannya di kepala Lin Lu. (Ini yang kita lihat dulu di episode pertama. Masih ingat, nggak?)

Lin Lu tersenyum. Bahkan sampai saat Lian Sen pergi. Ia menatap jas Lian Sen sambil senyum-senyum.

Liang yang dari tadi ada di belakang Lin Lu menatapnya dengan ekspresi sedih. Apa Lin Lu segitu sukanya sama Lian Sen?


Lin Lu membawa pulang jas Lian Sen dan mencucinya di rumah dan mengeringkannya.

Lian Sen berada di luar. Rupanya dia khawatir karena Lin Lu sudah sejam ada di kamar mandi. Apa dia baik-baik saja? Lin Lu mengiyakan kalo dia nggak papa dan akan segera keluar. Lian Sen meminta Lin Lu untuk cepat. Ia lalu pergi.

Lin Lu menatap bayangannya di cermin dan ngomong sendiri. Ia sudah memikirkannya seharian ini. Bisa nggak dia tetap vokus sama urusannya? Lin Lu lalu melihat ada jerawat di pipinya. Ia lalu menutupinya dengan krim. Beres. Eh, tapi kan sekarang hampir tengah malam? Ngapain juga dia dandan?


Lin Lu keluar dari kamar mandi dan menghampiri Lian Sen. Dengan bangga ia mengembalikan jas Lin Lu yang sudah ia cuci. Ta da!

Bukannya memuji Lian Sen malah seolah memarahinya. Li Lu di kamar mandi segitu lamanya cuman buat itu?

Lin Lu menyangkal. Ia memberitahu kalo orang biasa ingin membelinya maka mereka harus mengumpulkan gaji beberapa kali. Ia meminta agar Lian Sen nggak berdiri di depannya lagi kalo lain kali ia menghadapi masalah seperti tadi. Ia memberitahu kalo dia nggak selemah yang Lian Sen bayangkan.

Lian Sen menutup laptopnya lalu meminum kopinya. Lin Lu nggak terima. Apa ini maksudnya? Jangan merendahkannya. Jangan cuman lihat kalo tubuhnya kecil. Dia juga nggak akan kalah dalam pertarungan.

Lian Sen menatap Lin Lu dan memintanya untuk melindungi diri sendiri dengan baik. Tiba-tiba Lin Lu menyinggung tentang produk palsu itu. Menurutnya Huanzhen sudah bertahun-tahun ada di bidang itu jadi nggak akan pernah menjual produk palsu. Ia yakin kalo ada yang mau menjebak Lian Sen. Mungkin mantan pacar?


Lian Sen hanya bisa menghela nafas. Ia bangkit dan menanyakan apa Lin Lu masih menggunakan otaknya? Seenggaknya harus ditambahkan agar lebih tinggi. Ia meletakkan cangkir kopinya di atas kepala Lin Lu lalu mau kembali ke kamarnya.

Lin Lu mengembalikan cangkir itu ke atas meja dan menyindir kalo sebenarnya Lian Sen iri padanya.

Ponsel Lian Sen tahu-tahu bunyi. Dari Maggie yang mengabarkan kalo di internet orang-orang mulai mengomentari produk palsu Huanzheng. Dan wanita yang tadi sore melakukan siaran langsung sambil nangis bilang kalo Lian Sen telah memgancamnya dengan bahasa dan fisik.

Lian Sen santai dan tetap tenang. Ia meminta Maggie untuk memanggil semua orang untuk pertemuan darurat setengah jam lagi.


Lian Sen mengambil jasnya dari Lin Lu dan bilang kalo ia akan pergi ke kantor dan menyuruh Lin Lu untuk istirahat kebih awal.

Lin Lu khawatir dan menanyakan apa itu ada hubungannya dengan produk palsu? Lian Sen mengatakan kalo itu hanya masalah kecil. Sekali lagi ia menyuruh Lin Lu untuk istirahat.

Lin Lu melihat ponselnya setelah Lian Sen pergi. Semua berita itu membuatnya menjadi kesal.


Para pelanggan datang ke toko dan minta pengembalian uang. Liang menenangkan dan berjanji akan menangani satu persatu bagi yang ingin mengembalikan barang. Mereka malah semakin menjadi.

Lin Lu berusaha menenangkan. Ia melarang para pelanggan mempercayai berita di internet dan meyakinkan kalo nggak ada masalah dengan produk kosmetik mereka.

Para pelanggan nggak mau percaya. Lin Lu bisa mengatakannya karena dia adalah juru bicara Huanzheng.


Sementara itu di ruangan Lian Sen, ia sedang melihat rekaman CCTV yang dikirim via email.

Maggie memberitahunya kalo departemen Humas juga sudah menyiapkan pernyataan tentang produk baru yang sudah lulus uji klinis. Mereka menunggu pemberitahuan Lian Sen untuk go public.

Lian Sen mengiyakan dan memperbolehkan Maggie untuk pergi.

Fang datang dan menanyakan perkembangan situasi. Apa Lian Sen membutuhkan bantuannya?

Lian Sen mengatakan kalo dia nggak memerlukannya. Fang mengingatkan kalo produk palsu bukan masalah sepele. Itu sangat fatal.

Maggie tiba-tiba datang lagi dan mengabarkan tentang kekacauan yang terjadi di toko. Lin Lu dikelilingi banyak pelanggan. Tanpa pikir panjang Lian Sen langsung bangkit dan pergi.

Fang mendekati laptop Lian Sen dan melihat kekacauan di toko. Ia pun segera ikut pergi.


Lin Lu mendapat telpon dari ibunya yang menanyakan apa yang terjadi. Ia dengar dari orang-orang di rumah sakit kalo hal buruk telah terjadi di Huanzhen. Dan orang-orang juga terus melirik ke arah mereka.

Lin Lu meyakinkan kalo nggak terjadi apa-apa. Ia bisa mengatasinya.

Lin Lu kembali pada para pelanggan dan menenangkan. Mereka makin ganas dan mendorong Lin Lu. Ponsel Lin Lu terjatuh. Ia mengambilnya. Liang membantunya dan bertanya apa dia baik-baik saja?

Lian Sen juga datang bersama dengan tim keamanan. Ia membantu Lin Lu untuk bangkit lalu menghadapi para pelanggan itu dan meminta mereka untuk diam.

Kepada para keamanan ia meminta agar melindungi keselamatan para karyawan. Lalukan tindakan sesuai hukum pada seseorang yang mengambil kesempatan untuk membuat masalah.

Lian Sen lalu menarik Lin Lu dan membawanya pergi dari sana. Semua orang hanya melihatnya. Para pelanggan bahkan bertanya-tanya apa dia presdir?

Fang yang baru sampai juga melihatnya. Dia patah hati.


Lian Sen membawa Lin Lu ke rumah sakit. Nggak disangka di depan rumah sakit juga ada banyak wartawan. Mereka meminta pernyataan dari Lin Lu mengenai produk baru Huanzhen. Lin Lu geram. Ia mengambil mic salah seorang reporter dan memberitahu kalo penipulah yang sebenarnya telah menyebarkan berita palsu itu.

Lian Sen yang berdiri di sebelah Lin Lu mengingatkannya untuk nggak panik karena ia ada di samping Lin Lu. Wartawan lainnya menanyakan tentang hubungan Lian Sen dengan Lin Lu yang hanya untuk mendongkrak popularitas produk baru Huanzhen.

Lian Sen santai menjawabnya. Apa dia masih harus mengatakan sesuatu kalo mereka menganggapnya hanya sebagai rumor?

Lian Sen membukakan pintu mobil untuk Lin Lu. Mereka nggak jadi ke rumah sakit sementara para wartawan terus mendesak.


Mobil Lian Sen berhenti setelah agak jauh dari rumah sakit. Lin Lu mengatakan kalo ia tetap harus ke rumah sakit karena ibunya mungkin mengalami sesuatu. Dan Xiaocheng belum tahu apa yang terjadi. Lin Lu mau kembali.

Lian Sen menarik tangannya dan menahannya. Ia meminta Lin Lu untuk tenang. Mengingat kondisinya saat ini hanya akan membuat ibu dan adiknya merasa khawatir.

Lin Lu mengaku nggak bisa merasa tenang. Mereka adalah satu-satunya keluarganya. Dia nggak ingin mereka terlibat.

Lian Sen menggenggam tangan Lin Lu dan memintanya jangan khawatir. Ia akan selalu ada di samping Lin Lu. Ia meyakinkan kalo nggak akan terjadi apa-apa.


Lin Lu menurut dan tetap di mobil. Lian Sen mengambil ponselnya dan menelpon seseorang. Ia meminta agar keamanan di rumah sakit diperketat. Ia nggak ingin keluarganya mengalami gangguan. Lin Lu tersenyum dengar Lian Sen bilang kalo itu adalah keluarganya.

Lian Sen menatap Lin Lu dan memintanya untuk nggak mengatakan hal-hal yang berlebihan. Lin Lu bisa menghubungi ibunya setelah emosinya tenang. Lin Lu berterima kasih. Mereka lalu saling lempar senyum.


CEO Sally dan anaknya mengawasi perkembangan tentang berita produk palsu Huanzhen. Anaknya memuji rencana ayahnya.

CEO Sally menyuruh anaknya untuk mencari reporter dan membuat berita. Temukan lebih banyak orang untuk membuat masalah. Ia ingin membuat mereka nggak bisa menjual apapun.

Anak CEO Sally menenangkan. Ia sangat ahli dalam hal itu. Serahkan saja padanya.


Lian Sen membawa Lin Lu untuk pulang ke rumah. Baru saja turun dari mobil ponselnya sudah bunyi lagi. Ayah memintanya untuk melakukan apa yang dikatakan dewan. Alihkan semua tanggung jawab pada Lin Lu dengan membuat kalo hubungan Huanzhen dan Lin Lu nggak terlalu baik.

Lian Sen hanya tersenyum mendengarnya. Ia memberitahu kalo reputasi Huanzhen nggak perlu mengorbankan seseorang untuk menyelamatkannya. Ia meminta ayah untuk menginformasikan pada dewan kalo Lin Lu bukan hanya juru bicar tapi juga adalah pacarnya. Ia lalu menutup telpon ayah.


Lin Lu menghampiri Lian Sen dan bilang kalo dia nggak papa. Lian Sen tersenyum dan membelai kepalanya. Ia meminta Lin Lu agar nggak usah terlalu memikirkannya. Istirahat lebih awal. Dia lalu pamit.

Lin Lu berpesan agar Lian Sen nggak memaksakan diri. Semangat! Lian Sen mengangguk. Lin Lu berjalan menuju rumah. Mereka lalu berpisah.


Sudah jam 11 lebih tapi Lian Sen belum juga pulang. Lin Lu nggak bisa tenang hanya dengan menunggunya saja. Ia memgambil ponselnya dan mengirim pesan. Tapi akhirnya ia malah menghapusnya. Ia merasa kalo sekarang Lian Sen pasti sedang sangat sibuk.

Dan benar saja. Lian Sen sangat sibuk di kantornya tapi masih nggak menemukan apa-apa. Lian Sen mendekat dan melihat Lin Lu di CCTV. Ia lalu menyutuh dua tim keamanan untuk istirahat sejam. Ia menyuruh Maggie dan yang lain untuk makan malam dulu.


Lin Lu berjalan sambil melihat ponselnya. Lian Sen terus mengawasinya dari tempat duduknya. Lin Lu mengetuk pintu dan ia mempersilakannya untuk masuk.

Lin Lu memberitahu kalo dia bosan di rumah jadi dia membawakan makanan buat Lian Sen. Lian Sen tersenyum menatap makanan itu. Apa Lin Lu juga punya insomnia?

Lin Lu mengatakan kalo sebagai juru bicara Huanzhen dia juga bagian dari masalah produk palsu itu. Dia merasa punya tanggung jawab untuk lembur bareng Lian Sen. Sambil mengangkat kotak makannya ia mengaku ingin memberi Lian Sen kekuatan. Dia ngajak Lian Sen untuk makan.


Mereka pindah duduk di sofa. Lin Lu membuka makanannya dan mempersilakan Lian Sem untuk makan. Lian Sen menanyakan apa Lin Lu sendiri yang menyiapkannya?

Lin Lu mengangguk membenarkan. Lian Sen mengambil sepotong roti lapis buatan Lin Lu dan memakannya sambil senyum.


Zichen sedang dimobil depan rumah. Ia mau mengirim pesan. Fang lewat. Ia turun dari mobil dan memanggil Fang. Mau pergi kemana tengah malam gini?

Fang mau ke halte. Ia mengingatkan kalo Huanzhen sedang dalam masa sulit. Mungkin Lian Sen belum makan. Dia ingin memberikannya makanan.

Zichen merasa kalo Sen Ge pasti sangat senang. Tapi kenapa naik bus? Kemana mobilnya? Fang memberitahu kalo mobilnya rusak. Ia lalu mau pergi. Zichen melarangnya naik bus dan akan mengantarnya.

Fang menolak. Dia mau naik bus saja. Zichen menyindir apa Fang pernah naik bus sebelumnya? Dikiranya masih ada bus jam segini? Apa dia sudah menyiapkan uang kecil? Fang nggak bisa menjawabnya.


Zichen menarik tangannya untuk masuk mobil. Fang menarik tangannya kembali. Zichen melihat tangan Fang terluka dan merasa khawatir. Fang menenangkan kalo itu hanya luka bakar. Zichen makin khawatir.

Ia mengaku punya benberapa hal yang ingin ia sampaikan. Fang adalah Fang Qiao dan bukannya Lin Lu. Fang cuman minum Jamaican Blue Mountain Coffee. Cuman pakai pakaian bermerek keluaran terbaru tiap musim.

Apa Fang pernah ke dapur sebelumnya? Sampai kapan Fang mau melakukan semuanya buat Sen ge? Setelah merubah penampilan seperti Lin Lu apa ia juga akan merubah wajahnya seperti Lin Lu?

Fang malah bilang kalo nggak ada yang nggak mungkin. Kalo Lian Sen menyukai Lin Lu maka ia akan menjadi seperti Lin Lu.

Zichen malah jadi geram. Kalopun Sen ge menerima Fang apa Fang bisa menggenggamnya seumur hidup? Dan apa yang telah Fang pelajari tentang Lin Lu nggak membuatnya merasa canggung?

Fang menegaskan kalo itu bukan urusan Zichen. Demi Lian Sen ia akan melakukan apa saja. Fang lalu pergi.

Zichen sendiri hanya bisa menatapnya tanpa bisa bilang apa-apa. Gimana bisa itu bukan urusannya? Melihat Fang seperti itu membuat hatinya nggak tenang. Zichen lalu kembali ke mobilnya.

Makin gemes deh lihat Lin Lu dan Lian Sen. Mulai peduli satu sama lain, Lin Lu yang nungguin Lian Sen nggak kunjung pulang, sampai disusulin ke kantor sambil bawain makanan segala.

Tapi yang bikin kesel justru malah ayahnya Lian Sen yang malah nyuruh anaknya buat nyalahin Lin Lu aja selaku juru bicara dari produk Cinderella. Bukannya ngajarin anaknya buat melindungi wanita tapi malah... .

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate