Saturday, April 6, 2019

Published April 06, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 15 part 2


Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Zichen sedang di dalam taksi. Dia menyuruh sopir untuk bergegas. Sopir mengiyakan. Ia sudah berusaha tapi mobilnya sudah tua dan hanya bisa sampai disana. Mobil tiba-tiba berhenti. Sopir keluar dan membuka kap mobil. Asap keluar dari sana.

Zichen keluar dan mau membayarnya. Sopir melarang. Nggak perlu. Zichen mengambil kopernya dan berlati menuju bandara. Dibelakangnya sebuah taksi yang ditumpangi Fang melintas tanpa Zichen sadari.


Zichen terus berlari sambil menyeret kopernya semrntara taksi yang ditumpangi Fang berhenti karena lampu merah. Zichen nggak sengaja lihat Fang lalu buru-buru balik badan.

Fang melihat keluar jendela dan melihat Zichen. Dia yakin kalo itu Zichen meski nggak lihat wajahnya. Ia pun tersenyum. Taksi Fang sudah pergi. Zichen buru-buru berlari ke rumah sakit.


Lin Lu menulis sebuah pesan dan menempelkannya ke wadah makanan. Ia mau memberikan makanan itu untuk Lian Sen. Fang datang. Lin Lu menyapanya. Mereka saling senyum.


Zichen kembali memakai seragam rumah sakit dan melipat pakaiannya. Dokter masuk dan menyapanya. Zichen tersenyum dan menghampiri dokter. Dokter menduga kalo Zichen ingin bikang kalo dia nggak perlu diperiksa lagi?

Zichen menggeleng. Ia mengatakan kalo selama 2 hari ia melarikan diri menyadarkannya kalo apa yang dokter katakan adalah benar. Ia memeluk dokter dan mengakui kalo penyakitnya belum sembuh dan sangat serius.

Ia meraih tangan dokter dan menggenggamnya. Ia ingin minta satu hal dari dokter. Zichen menyampaikan kalo nanti akan ada wanita cantik yang akan menemuinya. Ia ingin dokter memberitahu wanita itu kalo penyakitnya sangat...sangat serius. Ia mengatakan akan mengandalkan dokter selama sisa hidupnya.

Dokter lalu menyuruh suster untuk memeriksa zichen. Zichen tersenyum membayangkan reaksi Fang nantinya saat melihatnya.


Lin Lu berbicara dengan Fang. Fang mengaku sangat ingin tahu dan ingin merelakan beberapa orang. Lin Lu mengatakan kalo dia selalu ingin minta maaf pada Fang. Fang malah nggak ngerti kenapa Lin lu masih sama. Dulu ia lah yang harusnya minta maaf. Ia merasa kalo Lin Lu nggak harus merasa bersalah untuk siapapun. Lin Lu tersenyum dan berterima kasih.

Fang juga tersenyum pada Lin Lu. Lin Lu meminta ijin untuk memeluk Fang. Fang dengan senang hati membuka tangannya. Lin Lu bangkit dan memeluk Fang. Lin Lu teringat sesuatu. Ia melepas pelukannya dan memberitahu kalo Zichen dirawat di rumah sakit. Fang bertanya apa Lin Lu pernah menengoknya?

Lin Lu mengiyakan. Ia bertanya apa Fang akan menhenguknya? Fang memberitahu kalo ia akan menemui Zichen saat ia kembali. Tapi saat ia baru kembali ia melihat Zichen berkeliaran di jalan. Jadi ia nggak merasa begitu khawatir. Lin Lu malah nggak ngerti kenapa Zichen berkeliaran di jalan?


Dengan santai Fang memberitahu Lin Lu kalo Zichen akan memberinya kejutan tanpa henti diluar apa yang ia pikirkan dan nggak ada yang bisa ia lakukan. Menurutnya Zichen sudah seperti itu sejak kecil. Lin Lu tersenyum dan mengku mengerti.

Fang lalu menanyakan kabar Lin Lu dengan Lian Sen. Ia mengaku sudah melihat berita tentang mereka. Lin Lu menghela nafas sebelum menjawabnya. Ia memberitahu kalo mereka ... . Ia merasa kalo ceritanya sangat panjang.

Fang menasehati kalo nggak akan ada masalah selama mereka bisa bersama. Lin Lu hanya tersenyum lalu berterima kasih pada Fang. Fang heran kenapa Lin Lu begitu sopan padanya?


Fang datang ke rumah sakit dan melihat Zichen sedang mainan ponsel sambil tersenyum. Ia mengetuk pontu. Zichen mengenali suara ketukan pintu itu dan sangat yakin kalo yang datang pasti Qiao Qiaonya. Ia menyembunyikan ponselnya dan pura-pura sakit.

Fang masuk dan membangunkan Zichen yang pura-pura tidur. Zichen membuka matanya dan menyapa Fang. Ia pura-pura batuk dan mengira kalo sedang berhalusinasi. Fang merasa kalo Zichen sangat kurus. Ia menanyakan apa yang dikatakan oleh dokter?

Zichen meraih tangan Fang dan memberitahu kalo dokter mengatakan bahwa ia sakit parah. Penyakitnya kemungkinan akan menjadi kanker lambung. Fang mengangguk sambil tersenyum.

Dokter datang. Fang langsung menanyakan keadaan Zichen. Zichen mengedipkan matanya pada dokter sebagai kode agar dokter mengatakan apa yang ia minta sebelumnya. Dokter mengatakan kalo kondisi Zichen masih sedikit serius dan memerlukan pemeriksaan lebih lanjut.

Zichen tersenyum di belakang Fang karena semua berjalan seperti keinginannya. Fang menyarankan agar dilakukan kolonoskopi dan gastrokopi dan mencari tahu dengan jelas apa penyebabnya.

Zichen nggak mau melakukannya. Ia meyakinkan Fang kalo setelah Fang kembali ia merasa kalo rasa sakitnya seperti sutra. Dan sekarang ia merasa kalo ia sudah sembuh. Fang mengatakan kalo Zichen terlalu lama berbaring dan lebih baik dikonfirmasikan. Fang mengajak dokter keluar untuk merencanakan tes lanjutan untuk Zichen besok pagi.

Zichen kecewa karena yang terjadi nggak seperti yang ia bayangkan. Kenapa ia harus menjalani Gastroskopi dan kolonoskopi? Padahal hari itu Lin Lu menangis gara-gara itu


Maggie mendatangi Lian Sen dan memberikan makanan yang ditinggalkan Lin Lu untuknya. Ia mengira kalo Lin Lu nggak makan. Lian Sen nggak mengatakan apa-apa. Maggie meletakkan makanan itu di atas keja lalu pamit.

Lian Sen membaca pesan di atasnya. Nggak ada maksud lain. Lin Lu hanya ingin mengingatkan Lian Sen untuk makan. Ia takut kalo Lian Sen kelaparan maka nggak ada yang akan menandatangani kontrak dengannya.

Lian Sen tersenyum. Ia lalu melihat foto Lin Lu yang ia ambil diam-diam tadi siang. Lian Sen terpikir sesuatu. Ia mengambil jasnya lalu pergi.


Hari sudah mulai malam. Sekretaris Liang masuk ke ruangannya dan memberitahu kalo ia sudah memeriksa sekolah pelatihan yang Liang Zong minta. Ia memberikan laporan itu pada Liang. Liang menerimanya dan berterima kasih.

Liang lalu menelpon dan meminta agen penjualan rumah untuk menghubungi Lin Lu dan mengingatkan tentang apa yang ia katakan sebelumnya.


Lin Lu datang ke kantor agen penjualan rumah dan kembali melihat rumah yang ia lihat terakhir kali bersama Liang. Ia menanyakan biaya sewanya. Pria itu menjawab 1000 Y. Lin Lu senang karena itu lebih murah dari yang sebelumnya.

Lin Lu senang karena di rumah itu ia bisa melihat sungai dan pemandangannya juga sangat bagus. Agen menanyakan apa Lin Lu sangat luas dengan rumah itu? Ia menyarankan agar Lin Lu segera menandatangani kontrak.

Lin Lu mengiyakan. Tapi setelah memikirkannya lagi, ia merasa kalo harganya terlalu murah dan merasa ada yang nggak beres. Agen memberitahu kalo pemilik rumah ingin penyewa seorang perempuan. Ia menyarankan agar Lin Lu nggak perlu mempertimbangkannya lagi karena pemilik rumah itu ingin seseorang yang bisa merawat rumahnya.

Lin Lu masih mengganjal dengan harganya yang murah. Ia lalu menanyakan apa ia akan menandatangani kontrak dengan pemilik rumah langsung atau dengan agen? Agen menjawab agar Lin Lu bisa menandatangani kontrak dengannya.

Lin Lu kembali bertanya biaya perawatannya. Apakah ia harus menemui pemilik rumahnya langsung? Agen memberitahu kalo biaya sewa sudah termasuk biaya perawatan. Kalo ada kerusakan maka Lin Lu bisa langsung menemuinya.


Lin Lu makin merasa kalo itu nggak normal. Itu bukan rumah bekas makam, kan? Agen nggak bisa menjawabnya. Lin Lu makin yakin kalo ada yang nggak beres. Agen memberitahu kalo itu nggak mungkin. Ia mengungkapkan kalo rumah itu telah disewa banyak orang. Kalo apa yang Lin Lu bilang rumah itu seperti kuburan atau ada yang nggak benar maka nggak mungkin pemilik rumah akan menyewakannya dengan harga tinggi.

Lin Lu heran dengan apa yang barusan agen bilang. Sewa tinggi? Lah, bukannya tadi dia bilang kalo pemilik rumah ingin menemukan sesrorang yang bisa merawat rumahnya makanya harganya murah?

Agen membenarkan. Lin Lu menangkap kalo agen merasa gugup dan yakin kalo pasti ada sesuatu yang disembunyikan darinya. Kalo enggak maka ia nggak akan mengeluh sekarang. Lin Lu mau mengambil ponselnya.

Agen melarang Lin Lu menuntutnya. Ia mengakui kalo Lin Lu benar. Ia lalu meminta agar Lin Lu nggak memberitahu Tuan Liang kalo ia mengatakan yang sebenarnya. Agen memperjelas kalo saat terakhir Liang datang dengan Lin Lu, ia ingin menyewa rumah itu dengan harga tinggi dan menyuruhnya untuk memberikan pada Lin Lu harga yang murah. Ia menasehati Lin Lu kalo di dinia ini nggak banyak pria yang baik seperti Liang.


Lin Lu mengemasi pakaiannya dan akan pergi dari rumah Liang. Liang datang dan memberitahu kalo ia membantu Lin Lu menemukan sekolah pelatihan yang bagus. Lin Lu tersenyum dan memberitahu kalo ia bisa menemukannya sendiri. Liang tetap ingin membantu Lin Lu dan memberitahu kalo itu itu sangat bagus. Ia pun menunjukkannya ke Lin Lu.

Lin Lu mengatakan kalo sore tadi ia menemui agen rumah dan diberitahu kalo Lianglah yang merencanakan semuanya. Liang syok Lin Lu telah mengetahuinya. Ia mendekat dan memberitahu kalo ia hanya ingin bersikap baik pada Lin Lu.

Lin Lu menatap Liang dan mengaku tahu kalo Liang baik padanya dan ia sangat berterima kasih. Tapi Liang sama sekali nggak perlu melakukan itu untuknya. Ia nggak tahu gimana cara Liang bergaul. Gimana nanti kalo Liang punya pacar nanti? Ia yakin kalo pacar Liang pasti akan cemburu padanya.


Liang bangkit dan berdiri menatap Lin Lu. Lin Lu menutup kopernya dan siap untuk pergi. Liang menatap Lin Lu dan mengakui perasaannya kalo ia sangat menyukai Lin Lu. Dulu ia pikur nggak bisa memberikan hidup yang layak buat Lin Lu  jadi ia melakukan... .

Lin Lu buru-buru memotong dan melarang Liang untuk memberitahunya. Ia menarik kopernya dan mau pergi. Liang melarang Lin Lu untuk pergi. Ia akan menjelaskan semuanya krena sudah mengakuinya. Ia menyukai Lin Lu selama 16 tahun.

Lin Lu memalingkan wajahnya dan nggak bisa mendengarnya. Liang melanjutkan kalo selama mereka tumbuh bersama, ia suka saat Lin Lu memanggilnya master Liang, ia suka saat melihat Lin Lu tersenyum padanya tiap hari, ... .


Lin Lu menatap Liang dan meminta maaf. Ia hanya akan menganggap Liang sebagai teman baik. Dan lagi dia sudah punya pacar. Liang mengulangi apa Lin Lu hanya akan menganggapnya sebagai teman? Lin Lu mengangguk membenarkan.

Liang seolah nggak terima. Ia meraih tangan Lin Lu. Setelah bertahun-tahun dan Lin Lu hanya menganggapnya sebagai teman? Ia mendekat dan berpikir kalo selama ini mereka nggak  hanya sekedar teman. Lin Lu menarik tangannya dan meminta agar Liang nggak seperti itu.

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate