Tuesday, April 2, 2019

Published April 02, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 11 part 2


Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Maggie menemui Lian Sen dan memberikan laporan perbandingan yang diminta. Lian Sen menerimanya dan membacanya. Bahan baku, rincian kemasan dan juga nomor batch produksi memiliki perbedaan yang jelas dengan produk mereka.

Lian Sen menanyakan CCTV. Maggie memberitahu kalo pada saat penerimaan barang, hanya ada Cindy, Manajer Liang Zhi dan nona Lin.

Lian Sen lalu teringat saat Lin Lu menemui wanita yang mengajukan komplain waktu itu. Lin Lu sudah ditolak tapi masih nggak nyerah. Dan saat itu sebenarmya Lian Sen juga ada disana. Makanya Lian Sen bisa segera menyelamatkan Lin Lu saat mau tertabrak mobil.

Lian Sen tersenyum. Nggak mungkin kalo itu Lin Lu yang bahkan lebih cemas daripada orang lain.



Di rumah Lian Sen latihan ngomong sama Lin Lu. Rupanya dia ingin memberikan sebush kamar buat Lin Lu. Dari gaya santai sampai gaya serius. Lah, tahu-tahu Lin Lu pulang.

Lian Sen buru-buru duduk dan mengambil koran di meja. Lin Lu yang kelelahan langsung duduk dan bersandar di sofa sebelah Lian Sen. Lian Sen menanyakan kenapa Lin Lu pulang terlambat? Lin Lu mengulangi, terlambat? Lian Sen yang pulangnya duluan.


Lin Lu mengeluh kelelahan. Dia mau tidur dan mencari sleeping bag-nya. Kok nggak ada? Lian Sen mengatakan kalo dia susah membuangnya. Lah, dibuang?

Lin Lu menanyakan dimana dia akan tidur kalo nggak ada sleeping bag? Lian Sen menunjuk pintu gudang. Lin Lu makin nggak ngerti. Disana bukannya ada banyak barang? Gimana dia bisa tidur?

Lian Sen bangkit dan meminta Lin Lu untuk mengikutinya. Lin Lu sampai nggak habis pikir. Lian Sen yang g*la apa dia yang berhalusinasi? Tapi akhirnya ia ikutan bangkit dan mengikuti Lian Sen.


Lian Sen membukakan pintu untuk Lin Lu. Ruangan yang semula gudang sekarang sudah berubah menjadi kamar tidur. Lin Lu tersenyum lebar. Ia nggak nyangka Lian Sen mengubahnya untuknya.

Lian Sen meminta Lin Lu agar nggak salah paham. Dia khawatir Lin Lu akan terus tidur kalo tidur di sofa. Ia lalu berbalik dan berjalan ke kamarnya.

Lin Lu masuk dan langsung melompat ke kasur. Rasanya sangat nyaman. Menurutnya rumah Presdir memang beda. Gudang saja bisa senyaman itu kalo dibersihkan. Tapi kenapa kasurnya ga terasa nyaman? Apa karena dia kelamaan tidur di sofa?

Lin Lu duduk dan nggak ngerti kenapa Lian Sen bisa tiba-tiba baik padanya? Jangan-jangan jatuh cinta padanya? Lin Lu jadi senyum-senyum nggak jelas. Tapi nggak mungkin. Gimana bisa dia punya pemikiran seperti itu? Penampilan Lin Lu sangat standar jadi itu nggak mungkin.


Lian Sen habis ngambil minum dan melihat kamar Lin Lu. Ia yang mau baik ke kamarnya nggak jadi dan malah mendekat ke kamar Lin Lu. Keadaannya sangat tenang. Lin Lu nggak melakukan hal b*doh, kan? Ia lalu mengetuk pintu kamar Lin Lu.

Lin Lu di dalam bertanya-tanya, jangan-jangan ada s*tan. Menurutnya nggak mungkin itu Shi Lian Sen. Gimana kalo s*tan yang datang?

Lian Sen bertanya apa Lin Lu sudah tidur? Lin Lu refleks dan langsung menjawab sudah. Lah, kalo sudah tidur kenapa masih bisa bicara?

Lin Lu mengingatkan kalo dia suka mengigau saat mimpi. Ia lalu menanyakan kenapa Lian Sen mencarinya? Ia nggak akan membukakam pintu jadi Lian Sen bisa langsung mengatakannya.

Lian Sen bilang nggak ada apa-apa. Ia melihat lampunya masih menyala dan mengatakan kalo lampunya nggak dimatikan?

Lin Lu memberitahu kalo sekarang dia sudah biasa tidur dengan lampu menyala. Ia lalu memberitahu kalo besok malam ia akan kembali ke rumahnya. Setelah pulang kerja ia akan mengurus...  . Ia akan mengurus sesuatu.


Lian Sen menyinggung kalo masalahnya akan ditangani dengan baik oleh perusahaan. Jadi Lin Lu bisa tenang. Lin Lu merasa kalo Lian Sen terlalu yakin. Dia terlalu malas untuk ikut campur sama urusan Lian Sen. Lian Sen hanya tersenyum mendengarnya sambil bersandar di samping pintu.

Lin Lu melanjutkan kalo waktunya akan ia gunakan untuk melafalkan 3 kalimat baru. Lian Sen meremehkan. Dia nggak yakin Lin Lu bisa menghafal 3 kalimat. Lin Lu kesal dapat sindiran dari Lian Sen. Lian Sen membenarkan.

Lin Lu nggak peduli. Ia ingin menjadi ahli make up nasional di masa depan. Dan setelah ia menjadi make up artis kecantikan internasional, maka yang ingin ia lakukan adalah... 

Lian Sen memotong dan menanyakan apa yang ingin Lin Lu lakukan? Lin Lu lupa pada apa yang ingin ia lakukan.

Lian Sen tersenyum dan menyuruhnya untuk segera tidur. Ia lalu mau kembali ke kamarnya tapi Lin Lu tiba-tiba menahannya. Ada apa? Lin Lu tersenyum dan menyemangati Lian Sen.

Lian sen hanya tersenyum dan nggak bilang apa-apa lagi. Ia lalu naik ke kamarnya. Lin Lu tersenyum. Dia nggak tahu apa yang ingin ia katakan tadi. Kenapa hanya Lian Sen yang ada di kepalanya? Nggak biasa-biasanya.


Lin Lu menunggu nyonya Zhang bersama Liang di sebuah restoran. Ia sangat gelisah karena orang yang mereka tunggu nggak juga datang. Dia nggak lagi jinak-jinak merpati, kan?

Lin Lu mengingatkan kalo 10 menit yang lalu nyonya Zhang menelpon dan minta dipesankan hidangan. Sekarang sudah satu jam tapi belum datang juga.

Liang menenangkan. Mungkin sedang terjebak macet. Ia meminta agar Lin Lu nggak khawatir. Ia lalu menggoda apakah Lin Lu mengkhawatirkan perusahaan karena Shi Zong?

Lin Lu balik menyindir kenapa Liang jadi begitu pendiam? Liang mengaku cemburu. Ia mengingatkan kalo mereka sudah saling mengenal lebih dari 10 tahun tapi ia belum pernah melihat Lin Lu segitu cemasnya.

Lin Lu tersenyum dan mengatakan kalo itu bukan hal baik. Selain itu persahabatannya dengan Jing Jing dan Liang lebih kuat dari baja dan tahan teruji waktu.  Liang tersenyum lalu meminum minumannya.

Tiba-tiba perutnya Lin Lu bunyi. Liang menyindir kalo perut Lin Lu tak tahan diuji waktu. Ia menyarankan agar Lin Lu makan dulu sedikit. Lin Lu menolak. Ia akan makan setelah nyonya Zhang datang.


Lin Lu mengambil gelasnya lalu minum. Karena minum dengan tergesa-gesa, membuat Lin Lu tersedak. Liang khawatir dan menepuk-nepuk punggungnya. Ia mengambil tissue dan membersihkan mulut Lin Lu.

Lian Sen kebetulan lewat bersama dengan Fang. Ia sempat melihat kebersamaan Lin Lu dan Liang dan malah jadi salah paham. Nggak tahu kenapa wajahnya berubah jadi kesal. Fang bertanya ada apa? Dengan wajah dingin Lian Sen mengatakan kalo nggak ada apa-apa.


Lian Sen dan Fang menemui orang tua masing-masing untuk makan bersama. Fang mengangkat gelasnya dan memanggil ayah ibunya dan ayah Lian Sen. Ia berharap hubungannya dengan Lian Sen nggak akan mempengaruhi hubungan bisnis keduanya. Para orang tua nggak mempermasalahkan dan mereka pun bersulang.

Ayah Lian Sen membenarkan apa yang Fang katakan. Ia akan merasa tenang seandainya Lian Sen punya setengah saja pemikiran seperti Fang. Ibu Fang menambahi kalo menurutnya Lian Sen juga sangat baik. Dewasa, berpendirian teguh dan sedikit bicara.


Lian Sen nggak menanggapi karena sedang melamun. Fang mewakili. Ia memberitahu orang tuanya kalo belakangan Lian Sen sedang sibuk menyelesaikan masalah Huanzhen.

Dia terlalu sibuk untuk makan. Ia lalu mengingatkan orang tuanya kalo keluarga mereka selalu ingin memasuki dunia bisnis bidang kecantikan. Menurutnya Buanzhen cukup bagus.

Ia mengungkit kalo keluarga mereka juga saling terkait satu sama lain. Menurutnya itu akan sangat bermanfaat untuk kemajuan bisnis keluarga mereka. Ayah Fang nampak nggak tertarik dan nggak bilang apa-apa. Ayah Lian Sen kembali mengangkat gelasmya dan mereka kembali bersulang.


Lian Sen masih nggak bisa berhenti memikirkan Lin Lu. Harusnya sekarang Lin Lu pergi bekerja. Kenapa...? Ayah memanggil Lian Sen dan mengingatkan kalo ia harusnya ngobrol dengan paman dan bibi.

Lian Sen mengangguk mengiyakan. Ia mengambil gelasnya dan mengajak bersulang. Nampak kalo ayah Fang nggak suka pada Lian Sen.

Lian Sen kembali memikirkan Lin Lu. Kalo emang cuman makan kenapa harus sampai sedekat itu? Wajahnya tampak menahan marah.


Liang keluar dari ruangannya  dan bertanya pada seorang pelayan. Dimana ruangan pribadi keluarga Shi atau Shi Fang? Pelayan itu menunjukkan ruangannya pada Liang.

Liang mencari ruangan itu. Seorang pelayan wanita baru saja mengantar makanan. Dengan pintu yang masih separuh terbuka ia bisa melihat siapa saja yabg ada di dalam. Lian Sen, Fang dan orang tua masing-masing.

Liang menelpon Lin Lu dan memberitahu kalo dia melihat nyonya Zhang Yushi. Ia menyuruh Lin Lu untuk datang ke samping lift.


Yang lain mulai makan sedangkan Lian Sen hanya diam saja. Fang meletakkan makanan di mangkuk Lian Sen.

Lian Sen mengambil sumpit dan mengatakan kalo dia bisa melakukannya sendiri. Fang berbasa-basi menanyakan pendapat Lian Sen tentang ide yang ia sampaikan tadi.

Para orang tua menunggu jawaban Lian Sen. Lian Sen tersenyum dan menatap orang tua Fang. Ia lalu mengangkat gelasnya dan berterima kasih atas niat baik orang tua Fang.

Ia mengaku sangat senang mendapatkan kepercayaan dari mereka. Tapi ia bisa mengerti kalo mereka nggak mau berinvestasi. Sontak semua orang langsung menatapnya. Apalagi ayah. Dia yang kayaknya paling kecewa dengan perkataan Lian Sen.

Lian Sen pamit. Masih ada hal lain lagi yang harus ia tangani. Ayah berusaha menahannya. Hal penting apa yang membuatnya harus harus pergi sekarang? Apa Lian Sen nggak tahu kalo hari ini... .

Lian Sen meminta maaf habis itu pergi. Dan suasana jadi nggak enak setelahnya. Fang juga ikut pamit. Ia berniat menyusul Lian Sen.


Lin Lu datang bersama Liang. Ia benar-benar mengira kalo Liang bertemu dengan Nyonya Zhang. Lian Sen keluar dengan terburu-buru. Fang memanggilnya.

Lian Sen memberitahu kalo Huanzhen punya cara sendiri untuk menangani masalah itu. Ia sangat berterima kasih atas kebaikan Fang padanya. Ia mempersilakan Fang untuk pergi dan bersenang-senang.

Lian Sen mau jalan lagi. Fang bermaksud menahannya tapi malah terjatuh. Lian Sen sigap menolongnya. Tanpa Lian Sen sadari di belakangnya ada Lin Lu yang sedang mengawasi.

Pelayan masuk ke ruangan Lian Sen tadi dan melihat orang tua Fang bersama dengan ayah Lian Sen. Hal itu malah membuatnya makin salah paham. Ia mengira kalo mereka sedang mengadakan pertemuan keluarga.


Lian Sen meoleh ke belakang dan melihat Lin Lu melempar tatapan penuh kebencian padanya. Tanpa bilang apa-apa Lin Lu langsung berbalik dan pergi. Lian Sen nggak mau Lin Lu salah paham. Ia melepaskan Fang lalu mengejar Lin Lu.

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate