Friday, April 5, 2019

Published April 05, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 14 part 1


Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Lin Lu kaget lihat Lian Sen. Gimana bisa Lian Sen ada di sana? Lian Sen menatap Lin Lu tajam dan dengan santainya bilang cuman lewat. Lin Lu mulai canggung. Kapan Lian Sen akan masuk?

Lian Sen nggak bisa berhenti senyum dan meledek Lin Lu yang masih memikirkannya. Lian Sen berniat mengantar Lin Lu pulang. Lin Lu tersenyum. (Duh, lucu banget, sih pasangan ini??!!)


Liang menunggu Lin Lu di luar. Dia nggak nyangka kalo Lin Lu pulang bareng Lian Sen. Dia jelas-jelas nggak suka tapi memaksakan untuk tersenyum di depan Lin Lu. Ia menyapa Lin Lu dan Shi Zong. Lin Lu nggak mengundangnya untuk minum teh, kan?

Lian Sen hanya tersenyum menatap Liang. Lin Lu mengingatkan kalo sekarang sudah malam. Ia meminta Lian Sen untuk segera pulang. Lian Sen nggak mau dan malah menatap Liang tajam.

Lin Lu melangkah mau masuk. Tahu-tahu Lian Sen menariknya. (Ough...!!!) Liang malas lihatnya dan memalingkan wajahnya. Lian Sen pamit dan menyuruh Lin Lu untuk istirahat. Dia juga membelai rambut Lin Lu sambil senyum manis banget.


Lian Sen berbalik dan melangkah pergi. Liang memanggilnya dan mengingatkan kalo mereka sudah putus jadi jangan mengganggu kehidupan Xiaolu lagi. Tanpa berbalik Lian Sen memberitahu kalo mereka nggak putus. Ia masih memegang keputusan terakhir.

Liang menyindir kalo Shi Zong suka mendominasi kehidupan orang lain. Lian Sen nggak mau kalah. Ia balas menyindir kalo Liang juga begitu. Ia lalu berjalan sementara Lin Lu masuk. Liang masih di tempatnya. Ia menatap punggung Lian Sen sambil tersenyum menyeramkan.


Lin Lu bekerja seperti biasa. Tiba-tiba beberapa wartawan datang dan menanyainya tentang putusnya hubungannya dengan Shi Zong. Lin Lu bingung dan nggak bisa mrmberi penjelasan.

Cindy menelpon Maggie dan memgabarkan kalo banyak wartawan datang di toko dan membuat masalah.

Maggie segera memberitahukannya pada Lian Sen kalo Lin Lu dikepung wartawan di toko. Tanpa pikir panjang Lian Sen langsung bangkit dan pergi ke toko.


Lin Lu sama sekali nggak bisa bilang apa-apa. Lian Sen sampai dan mau menghampiri Lin Lu tapi keduluan sama Liang. Liang berdiri di samping Lin Lu dan menanyakan apa yang salah dengan hal itu. Ia memberitahu kalo ia dan Lin Lu tumbuh bersama dari kecil. Dan mereka hanya makan bersama jadi itu bukanlah sebuah masalah besar.

Liang melanjutkan kalo ada salah satu temannya yang dikepung oleh mereka, para wartawan seperti hari ini maka ia juga akan tetap berdiri seperti sekarang. Para wartawan madih belum puas. Mereka malah menanyakan apa hubungan Liang dengan nona Lin. Apakah Liang menyukainya? Lian Sen nggak mau mendengarnya lagi. Ia pun pergi. Liang sendiri nggak bisa menjawabnya.


Lian Sen nggak bisa tenang di kantornya. Ia melamun sambil mengetuk-ngetuk meja dengan pulpen dan teringat dengan apa yang Liang lakukan untuk Lin Lu tadi.

Tiba-tiba Zichen melakukan panggilan video dengannya. Ia meledek kalo mencium bau gosong. Apa halaman belakang Lian Sen sedang terbakar? Ia mengingatkan kalo Lin Lu adalah gadis yang manis jadi akan ada banyak pria yang menyukainya. Lian Sen diam dan malas menanggapi.

Zichen melanjutkan kalo dia jadi Lin Lu, dia juga akan lari. Nggak tahan dengan sikap dingin Lian Sen tiap hari. Lian Sen makin malas dan mau memutus.

Zichen melarang. Ia mengaku sungguh-sungguh sekarang. Ia menanyakan apa Fang pernah menghubunginya? Lian Sen menjawab enggak.

Zichen bertanya lagi dimana Fang sebenarnya? Fang sudah lama nggak menghubunginya dan hal itu membuat Zichen merasa khawatir. Dia takut terjadi sesuatu pada Fang.

Lian Sen memberitahu kalo Fang baru saja online 10 menit yang lalu. Zichen heran mendengarnya. Lalu kenapa Fang mggak menghubunginya? Dengan santainya Lian Sen memberitahu kalo itu karena Zichen terlalu banyak bicara. Tangannya akan patah. Zichen ingin mengatakan sesuatu tapi Lian Sen keburu menutup tabletnya.


Ayah tiba-tiba masuk dan marah-marah. (Ih, ayah penampilannya berubah, loh!) Ayah membanting surat kabar di depan Lian Sen dan menyuruhnya untuk melihat itu. Apa itu cara yang Lian Sen maksud? Lian Sen santai, dia mengaku punya caranya sendiri. Ayah mau mengatakan sesuatu lagi tapi dibatalkannya.

Maggie masuk dan menyampaikan kalo departemen Humas mengusulkan sebuah rencana untuk menangani krisis saham yang anjlok. Love Beauty selaku ingin meliputnya dan CO Nona Lin. Mereka ingin menggunakan pengaruh CP Nona Lin untuk kenekan skandal yang beredar.

Lian Sen memberitahu Maggie kalo dia nggak ingin menggunakan Lin Lu. Ayah nggak setuju dengan keputusan yang Lian Sen ambil barusan. Menurutnya sekarang adalah momen penting untuk kelangsungan hidup matinya Huanzhen. Kenapa Lian Sen malah bertindak b*doh?


Lian Sen menatap ayah dan melarangnya ikut campur dalam masalah itu. Ayah malah nengungkit kalo dialah yanh mendirikan Huanzhen. Kalo dia nggak boleh ikut campur, terus siapa yang boleh ikut campur? Ayah menugaskan Maggie untuk segera mengaturnya.

Maggie masih berat. Gimana dengan nona Lin? Ayah santai. Ialah yang akan menanganinya. Ayah menatap Lian Sen tajam lalu pergi.


Lin Lu pulang dengan menyamar. Ia memakai topi dan kacamata hitam. Ayah menepuk pundaknya. Lin Lu yang nggak tahu kalo itu ayah meminta agar nggak berisik. Ayah menanyakan apa yang Lin Lu lakukan?

Lah, Lin Lu kaget lihat ayah. Ia melepas kacamatanya dan memberitahu kalo dia sedang hati-hati, takut kalo ada wartawan. Tahu kan gimana menakutkannya mereka di pagi hari? Ayah mengingatkan kalo Lin Lu adalah juru bicara Huanzhen jadi harus bersikap tegas. Ayah meminta agar Lin Lu menjaga imejnya. Lihat penampilannya sekarang.

Lin Lu mau memberitahu kalo.. . Ayah buru-buru menyela. Menurutnya itu nggak penting jadi nggak usah dijelaskan. Ayah memberitahu kalo Lin Lu punya sedikit peluang dan mrnyuruhnya untuk menyelesaikan masalah itu dengan Lian Sen.

Lin Lu memberitahu kalo dia sudah membuat keputusan tapi ayah merasa kalo Lin Lu nggak perlu minta maaf. Yang paling penting sekarang adalah neredakan skandal itu dengan lian Sen. Lin Lu memberitahu kalo dia sudah putus dengan Lian Sen.

Ayah terkejut mendengarnya. Hal itu membuat kepalanya sakit. Lin Lu panik. Ayah memberitahu kalo itu adalah penyakit lamanya. Ia harus segera pulang untuk minum obat. Lin Lu menggandeng ayah dan membawanya pulang.


Lin Lu dan ayah sampai rumah. Ia membantu ayah minum obat. Ayah menanyakan apa mereka benar-benar putus? Lin lu membenarkan dan meminta ayah agar nggak khawatir. Lin Lu lalu memperhatikan tempat itu yang nggak ada orang lain lagi. Apa ayah ingin Lin Lu untuk menyuruh Lian Sen pulang?

Ayah mengatakan kalo dia ingin makan buah. Lin Lu mengambil apel di meja dan memberikannya pada ayah. Ayah protes, nggak dikupas? Lin Lu nerasa kalo itu nggak perlu. Ia menceritakan kalo keluarganya makan apel selalu nggak pernah dikupas.

Lin Lu lalu memakan apel itu. Ayah melihatnya dan merasa jijik. Ayah lalu bilang kalo dia ingin makan jeruk saja. Lin Lu mengiyakan. Ia memberikan potongan jeruk pada ayah. Ayah memakannya tapi melepehnya kembali. Masam.  Lin Lu ingin membunuhnya, ya? Jangan bilang kalo Lin Lu juga nggak pernah milih jeruk. Ayah nggak tahu apa, sih yang Lian Sen lihat dari Lin Lu?

Lin Lu memakan jeruk itu sekulit-kulitnya. Menurutnya itu nggak masam. Malah manis banget. Ayah melihat Lin Lu yang makan jeruk bersama kulitnya dan membuatnya ingin muntah. Lin Lu sigap mengambil piring dan memberikannya pada ayah.

Ayah kesal lihat Lin Lu dan menyuruhnya untuk pergi. Lin Lu mengiyakan dan pamit. Sepertinya ayah sudah baikan. Baru aja dia mau pergi tiba-tiba ayah merasa sakit kepala lagi. Ia mengeluh kalo orang tua seperti dirinya sangat menyedihkan. Nggak ada yang peduli dengan penyakitnya. Sulit menyuruh orang untuk datang.

Lin Lu menghela nafas dan meletakkan tasnya kembali. Ia kembali duduk di samping ayah dan meyakinkan kalo dia nggak akan pergi. Ayah menyuruh Lin Lu untuk duduk dan mengobrol dengannya. Lin Lu memaksakan senyumnya meski dalam hati dia juga udah gedheg banget rasanya.


Lian Sen tiba-tiba datang. Lin Lu langsung berdiri. Ia memberitahu kalo ayah ingin makan apel dan menyuruh Lian Sen untuk mengupaskan. Dia mengambil tasnya dan mau pergi. Ayah kembali memegangi kepalanya yang sakit.

Lian Sen menolak mengupas apel. Ayah melarang mereka pergi dan mengingatkan kalo sekarang Huanzhen sedang dalam masa sulit. Dan meminta mereka untuk bekerja sama. Ayah menyuruh mereka untuk melakukan pemotretan akhir pekan unj dengan Love Beauty Magazine.

Lin Lu merasa kalo itu bukan ide yang bagus. Iya, kan? Lian Sen yang biasanya selalu membantah perintah ayah kali ini malah dengan gampangnya mengokekan.


Lin Lu ngambek sepanjang perjalanan pulang. Dua nggak ngerti kenapa Lian Sen setuju? Bukannya bagus untuk membatalkan kontrak? Lian sen santau. Menurutnya kontrak belum dibatalkan karena Lin Lu memutuskannya tanpa diskusi dengannya. Ia menyatakan kalo sekarang lin Lu masih juru bicara Huanzhen. Nggak akan berhasil kalo nggak ada pemotretan.

Lin Lu mengingatkan kalo mereka bukan pasangan. Lian Sen jug nggak bilang kalo mereka pasangan. Lin Lu langsung terdiam. Lian Sen melanjutkan kalo sebelum kontrak dibatalkan, Lin Lu wajib bekerja sama dengan Huanzhen untuk melakukan pemotretan itu.

Lin Lu menanyakan apakah mungkin untuk membatalkan kontrak dengan melakukan pemotretan? Lian Sen santai. Menurutnya pemotretan bukanlah apa-apa. Lin Lu berpikir kalo pemotretan juga di foto.

Bersambung...

      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate