Monday, April 1, 2019

Published April 01, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 6 part 1



Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Lin Lu nggak nyangka kalo ternyata itu yang ingin Lian Sen bicarakan dengannya. Ia terang-terangan menolak. Ia memberitahu kalo ibunya berpikiran kolot. Kalo sampai tahu maka ia akan mematahkan kedua kakinya. Lin Lu mengambil makanannya kembali dan membawanya pergi. Lian Sen santai lalu meminum kopinya.




Lin Lu di rumah sakit bersama ibunya menemui Lin Cheng. Ibu ingin tahu apakah Lian Sen benar-benar pacar Lin Lu apa enggak? Ibu mengaku nggak tahu kalo dia nggak dengar gosip dari orang dan diberitahu oleh Lin Cheng.

Lin Lu kesal dan mau memukul Lin Cheng tapi ditahan oleh ibu. Lin Cheng memberitahu kalo Lian Sen sangat baik padanya. Ia menasehati agar di masa depan Lin Lu nggak bertengkar dengan Lian Sen. Dengan IQ yang Lin Lu punya sebaiknya mendengarkannya. Ibu juga menasehati agar Lin Lu mendengarkan adiknya. Ibu meminta agar Lin Lu memegang Lian Sen erat-erat.

Ibu lalu menyuruh Lin Lu untuk kembali pada Lian Sen dan ia yang akan mengurus Lin Cheng. Lin Lu mengiyakan. Ia lalu pamit pada ibu dan adiknya.


Ternyata Lian Sen juga mau ke rumah sakit. Lin Lu langsung berbalik saat melihatnya. Lian Sen menghampiri Lin Lu dan menegurnya yang nggak menyapanya padahal sudah melihatnya. Bukannya itu nggak sopan?

Lin Lu tersenyum dan melambaikan tangannya. Ia nggak ngerti kenapa Lian Sen ada di sana dan menuduhnya mengikutinya. Lian Sen tersenyum. Menututnya wajar ia mengunjungi keluarga Lin Lu sebagai pacarnya.

Lin Lu mengingatkan kalo mereka hanya pacar palsu. Lian Sen nggak perlu terlalu serius. Kan dia sudah pernah bilang. Ia menakut-nakuti kalo ibunya sangat menyeramkan. Ibunya akan mematahkan kaki Lian Sen. Ia lalu menyarankan agar Lian Sen pergi saja.

Lian Sen nggak takut. Ia justru ingin mencobanya. Lin Lu buru-buru melarangnya. Lian Sen mengiyakan. Ia menanyakan pendapat Lin Lu. Lin Lu merasa kalo tinggal bersama adalah masalah besar. Jadi ia harus mempertimbangkannya dengan baik.

Lian Sen menyindir, untuk hidup bersama Lin Lu harus memikirkannya lebih dulu. Tapi sekarang Lin Lu harus memenuhi kewajibannya sebagai perwakilan perusahaan. Lin Lu lalu berbalik dan meninggalkan Lin Lu. Lin Lu aja sampai bingung kenapa Lian Sen berubah pikiran. Ia merasa kalo ada yang salah.


Lin Lu duduk sambil membaca buku di sofa di kantor Lian Sen. Lian Sen sendiri sedang bekerja sambil sesekali melirik Lin Lu.

Maggie datang membawakan beberapa dokumen yang harus Lian Sen tandatangani. Lian Sen menerimanya dan akan memberikannya pada Maggie besok. Ia mempeesilakan Maggie untuk pulang dulu.

Lin Lu senang mendengarnya. Ia mengemasi tasnya dan mau ikut pulang. Lian Sen memberitahu Maggie kalo ia mengirim beberapa foto ke emailnya dan nemintanya untuk menanganinya. Maggie mengiyakan lalu pergi.


Lin Lu bangkit dan mau pulang tapi Lian Sen melarangnya. Ia bangkit dan menghampiri Lin Lu. Perasaan dia nggak menyuruh Lin Lu pulang. Lin Lu berpikir kalo Lian Sen sudah selesai kerja makanya menyuruh Maggie pulang. Lian sen memberitahu kalo dia akan lembur...bersama Lin Lu.

Lin Lu langsung lemas dan kembali duduk. Ia mengingatkan kalo ia sudah duduk di sana sepanjang hari dan itu nggak termasuk ruang lingkup kontrak perwakilan. Lian Sen malah terpancing. Apa Lin Lu keberatan? Menurut kontrak yang mereka buat... .

Lin Lu langsung berdiri dan minta agar Lian Sen nggak melanjutkannya. Senyumnya kembali mengembang. Gimana bisa ia keberatan? Semua yang Presdir katakan adalah benar. Lian Sen seolah puas dan kembali ke mejanya. Dalam hati ia ingin tahu sampai berapa lama Lin Lu bisa bertahan?


Lin Lu kembali membaca bukunya. Lian Sen tiba-tiba minta dibuatkan kopi. Lin Lu benar-benar kesal. Lian Sen mengetuk meja pakai pulpen dan kembali meminta kopi. Lin Lu terpaksa mengambilkannya. Tapi Lian Sen mendadak berubah pikiran dan bilang ingin air putih

Lin Lu berbalik dan mau mengambilkannya. Lian Sen tertawa. Lin Lu kembali menghadap Lian Sen dan menuduh kalo ia sengaja melakukannya. Lian Sen menatap Lin Lu tajam. Lin Lu nggak berani ngomong lagi. Ia pun mengambilkan apa yang Lian Sen pesan.

Lin Lu mengambil air putih. Ia ingin mengerjai Lian Sen dan pura-pura terjatuh sehingga air itu tumpah mengenai pakaian Lian Sen. Lin Lu meminta maaf dan mengaku nggak sengaja. Ia mau membersihkannya tapi Lian Sen melarang. Dia punya banyak pakaian. Ia menyuruh Lin Lu untuk duduk saja.

Lin Lu kembali ke sofa sambil tersenyum puas bisa mengerjai Lian Sen. Lian Sen mengambil jasnya dan pergi untuk ganti baju.


Hari sudah pagi dan pekerjaan Lian Sen sudah selesai. Ia melihat Lin Lu yang tertidur di sofa dan menghampirinya. Lian Sen memanggil Lin Lu. Lin Lu seketika bangun dan menanyakan, mengorganisir dokumen atau menuangkan kopi?

Lian Sen mengajaknya makan. Lin Lu mengatakan kalo dia nggak makan lalu kembali tidur. Lian Sen mengambil majalah dan melemparkannya ke Lin Lu. Lin Lu sontak bangun dan menatap Lian Sen kesal. Lian Sen mengajaknya keluar. Lin Lu mengutuk Lian Sen lalu mengikutinya.


Lin Lu dan Lian Sen makan bersama. Lin Lu yang masih ngantuk memakan makanannya sambil tidur. Lian Sen mengerjainya dengan menyuapi sushi yang sudah dilumuri saus pedas.

Lin Lu langsung membuka matanya karena kepedasan. Apa yang Presdir lakukan? Lian Sen tersenyum dan menjawab memberi Lin Lu makan. Dan menurutnya itu sangat manjur. Lin Lu menatap Lian Sen dengan mata merah. Ia bangkit dan pergi. Lian Sen kembali tersenyum lalu menyusulnya.


Lin Lu pulang ke rumahnya. Ia benar-benar masih mengantuk. Ia sampai kamar dan langsung menjatuhkan diri di atas tempat tidur. Akhirnya bisa tidur juga. Ponselnya tiba-tiba bunyi. Lian Sen mengaku ada di depan rumahnya. Kalo Lin Lu nggak mau turun maka resikonya tanggung sendiri. Lin Lu merasa kesal banget.

Ia keluar dengan perasaan marah. Menunjuk wajah Lian Sen dan mau memarahinya. Tapi saat Lian Sen menunjukkan kontrak mereka, sikap Lin Lu langsung berubah manis. Lian Sen meminta Lin Lu untuk ikut dengannya.


Lin Lu menemani Lian Sen menonton film kartun. Tapi karena Lin Lu sangat mengantuk, ia pun tertidur dan bersandar di pundak Lian Sen. Lian Sen aja sampai heran. Lin Lu sama sekali nggak punya rasa takut dan bisa tidur di manapun.

Tiba-tiba ponselnya bunyi, dari Maggie. Lian Sen buru-buru mematikannya. Lin Lu tahu-tahu bangun dan mengigau. Ia menasehati Lian Sen kalo wanita akan g*la kalo dipermainkan. Lin Lu mau jatuh ke depan. Lian Sen buru-buru mengulurkan tangannya untuk menahan wajah Lin Lu.

Ia lalu menidurkan Lin Lu. Tapi saat mau menarik tangannya...lah, kok nggak bisa?? Ia menilai kalo Lin Lu tidurnya seperti babi dengan rambutnya yang berantakan. Lian Sen tahu-tahu merapikan rambut Lin Lu. Lin Lu menampik tangan Lian Sen dan memintanya nggak membuat masalah. Dia sangat mengantuk.

Ponsel Lian Sen kembali menyala. Maggie mengirim pesan kalo ia telah menangani foto nona Lin dengan baik. Lian Sen lega. Ia lalu menatap Lin Lu dan tiba-tiba tersenyum. Menurutnya Lin Lu nggak terlalu menyebalkan saat sedang tidur.


Hari sudah malam. Lian Sen mengantar Lin Lu pulang. Lin Lu merasa segar karena sudah bisa tidur. Ia tahu kalo Lian Sen sengaja menyiksanya. Lian Sen nggak ingin dia tidur pulas biar setuju tinggal di rumahnya. Lin Lu mengingatkan kalo itu nggak mungkin.

Lian Sen santai. Ia hanya tersenyum lalu menunjukkan ponselnya ke Lin Lu. Lin Lu terkejut melihat beberapa fotonya dengan Liang. Refleks ia mendorong ponsel Lian Sen agar menjauh.

Lin Lu marah dan menuduh Lian Sen mengambil fotonya diam-diam. Lian Sen kembali tersenyum. Ia menyarankan agar Lin Lu membuka matanya dan melihatnya. Berita itu sudah ia urus. Kalo saja ia nggak menemukannya tepat waktu, apa Lin Lu sudah memikirkan konsekuensinya?


Lin Lu memberitahu kalo dia dan Liang nggak punya hubungan apa-apa. Lian Sen meremehkan. Apa Lin Lu pikir orang akan mendengarkannya? Sebagai pacarnya, Lin Lu tinggal di rumah pria lain, apa itu pantas?

Lin Lu memberitahu kalo nggak hanya ia dan Liang yang tinggal disana. Ada juga Jing Jing. Dan lagi kenapa para wartawan itu nggak pernah bosan mengambil fotonya dan bukan para superstar? Bukankah mengambil fotonya nggak menghasilkan uang?

Lian sen hanya menatap Lin Lu. Lin Lu menanyakan bagaimana cara Lian Sen menekan mereka. Pasti menghabiskan banyak uang.

Lian Sen mengatakan kalo dia nggak melakukannya maka semua orang akan membicarakan perselingkuhan Lin Lu di internet. Dan akibatnya Cinderella, CP pecah dan produk nggak akan bisa dijual. Atau apa Lin lu punya cara untuk mengganti uangnya?

Lian Sen berpesan agar hal itu nggak terulang lagi. Dan kalo Lin Lu nggak mau pindah maka hal seperti ini akan terulang lagi. Lian Sen menyuruh Lin Lu untuk bertanggung jawab atas semua kerugian.


Lin Lu mau protes tapi Lian Sen sudah bicara lagi. Sejak Lin Lu menandatangani kontrak, ia nggak bisa lagi menjalani kehidupan seperti biasanya. Lin Lu menanyakan berapa banyak? Lian Sen memberitahu 10 milyar.

Lin Lu nggak bisa berkata-kata dan menuduh kalo Lian Sen pasti sedang menakut-nakutinya. Lin Lu pelan-pelan mundur lalu berlari. Lian sen bertanya Lin Lu mau kemana? Sambil lari Lin Lu menjawab, pindah! Lian Sen tersenyum melihat Lin Lu yang pergi naik taksi. Lian Sen masuk mobilnya lalu pergi.


Seorang pria menatap ke luar jendela. Di mejanya ada papan nama Sally. Pria itu mengeluarkan sebuah foto seorang wanita yang sedang menggendong anak perempuan.

Pria itu lalu duduk di kursinya dan menelpon seseorang. Ia memberitahu kalo ia sudah menyiapkan semua informasi. Ia meminta orang di seberang untuk membantunya menemukan orang di dalam foto itu secepat mungkin. Pria itu meletakkan ponselnya lalu kembali memandangi foto itu.

Makin seru, deh. Lin Lu dan Lian Sen mulai saling mengerjai. Dan Lian Sen juga kayaknya seneng banget Lin Lu mau pindah ke rumahnya.

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate