Sunday, April 7, 2019

Published April 07, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 16 part 3


Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Lin Lu bangun pagi-pagi banget dan langsung sibuk di dapur. Dia membuat salad. Lin Lu meeasa nggak nyaman saat melihat luka di tangan Lian Sen. Dan lagi kemarin Lian Sen juga sudah membantunya. Dia sengaja membuatkan sarapan untuk Lian Sen untuk menyenangkan hatinya.

Roti yang Lin Lu panggang sudah jadi. Ia mencari piring tapi nggak nemu. Lian Sen tiba-tiba datang dan menemukan piring untuknya. Lin Lu mengambilnya. Ia mengaku terlalu banyak membuat sarapan jadi nggak akan habis kalo dimakan satu orang.

Lian Sen tersenyum. Lin Lu meminta agar Lian Sen nggak salah paham. Dia hanya ingin makan makanan barat. Lin Lu mengambil roti dan meletakkannya di atas piring dari Lian Sen. Ia lalu membawanya ke meja makan sambil senyum-senyum. Lian Sen membawa saladnya dan menyusul Lin Lu.



Lin Lu mau menyinggung soal kemarin tapi Lian Sen buru-buru memotong menanyakan apa hari ini Lin Lu ada acara? Lin Lu bilang nggak ada. Dia hanya... . Lian Sen menatap Lin Lu dengan tatapan curiga. Lin Lu menunduk dan memberitahu kalo hari ini dia harus lembur. Mungkin dis akan pulang telat.

Lian Sen seolah nggak percaya. Lin Lu menambahkan kalo belakangan banyak pelanggan yang datang. Lian Sen merasa kalo Lin Lu berbohong. Soalnya kemarin dia sempat membaca pesan Liang yang mengajak Lin Lu untuk ketemuan sore hari ini.

Moodnya mendadak berubah. Dia bangkit dan pergi begitu saja. Lin Lu yang nggak tahu apa-apa merasa nggak nyaman. Apa dia telah mengatakan sesuatu yang salah sampai Lian Sen marah padanya?



Lian Sen memanggil Maggie dan memintanya untuk merubah tempat pertemuannya dengan Chen sore ini menjadi di Restoran Lehua. Lebih dekat dengan perusahaan mereka.

Maggie mengatakan kalo Lehua jauh dari Huanzhen. Mereka harus bolak-balik selama sejam. Dan lagi pertemuan itu adalah ini inisiatif mereka jadi ia rasa Shi Zong nggak perlu pergi secara pribadi. Dan nggak perlu merendahkan diri untuk pergi ke tempat lain.

Lian Sen langsung menatap Maggie sinis karena telah membantahnya. Maggie langsung menunduk dan akan melakukan apa yang Lian Sen minta.


Liang datang lebih dulu dan nenunggu Lin Lu. Ia langsung bangkit begitu Lin Lu datang dan menarik kursi untuk Lin Lu duduk. Lin Lu meminta agar Liang nggak usah repot. Dia bisa nelakukannya sendiri.

Liang tersenyum dan mengingatkan kalo dia adalah master Liangnya Lin Lu. Lin Lu nggak bisa bilang apa-apa lagi dan langsung duduk.

Liang kembali ke tempatnya dan meminta maaf pada Lin Lu karena kemarin ia terlalu impulsif. Ia mendadak mengatakan banyak hal yang sulit di jelaskan.

Ia menatap Lin Lu dan merasa kalo Lin Lu nggak harus janji padanya tapi ia berharap mereka masih bisa bersama seperti sebelumnya. Ia mengungkit kalo mereka sudah bersama selama 16 tahun.



Lin Lu hanya tersenyum dan nggak bilang apa-apa. Liang bertanya kalo Lin Lu nggak akan jadi kejam dan meninggalkannya kan? Lin Lu menggeleng.

Liang berjanji kalo kedepannya dia nggak akan mengungkit apa yang ia bicarakan hari ini. Lin Lu tersenyum. Liang lalu memberinya buku menu dan menyuruh Lin Lu untuk pesan makanan. Hari ini dia akan mentraktir.

Lin Lu menatap Liang dan mengucapkan terima kasih atas segala kebaikannya. Liang tersenyum dan meminta Lin Lu untuk makan yang banyak. Lin Lu mengangguk mengiyakan.



Orang yang duduk di depan Lin Lu dan Liang bangkit dan menyapa Lian Sen. Liang dan Lian Sen saling tatap dengan ekspresi nggak saling suka.

Liang lalu bangkit dan pindah tempat duduk menjadi di samping Lin Lu. Ia menunjukkan beberapa menu pada Lin Lu. Lian Sen yang sudah emosi dari pagi menjadi makin emosi melihat kedekatan Lin Lu dan Liang.

Lin Lu mengingatkan kalo Liang ingin bertemu dengannya karena ada hal penting. Apa itu? Liang menanyakan apa Lin Lu tahu alasannya pergi ke Sally? Lin Lu menggeleng.

Liang melanjutkan kalo dia adalah putra nggak sah dari Li Changxin, CEO Sally. Lin Lu nampak terkejut melihatnya. Liang melanjutkan kalo ayahnya sudah meninggalkannya dan ibunya selama bertahun-tahun. Selama lebih dari 20 tahun ini ayahnya yang nggak pernah mencarinya dan bertanya tentangnya tiba-tiba menyuruhnya pulang. Ayahnya ingin ia menjadi putra yang baik.

Lin Lu tersenyum dan meletakkan tangannya du pundak Liang. Lian Sen di belakang makin manyun lihatnya. Lin Lu mengingatkan kalo dari kecil nggak ada yang bisa menindas Liang. Ia menasehati agar Liang melupakan dendam dari masa lalunya. Ia sendiri yakin kalo Liang bisa mengatasinya dengan baik.



Di belakang Lian Sen meminta maaf dan nggak bisa menerima kerja sama yang tuan Chen sampaikan. Ia lalu bangkit dan menghampiri Lin Lu. Ia minta maaf karena datang terlambat.

Lin Lu langsung bangkit. Gimana Lian sen bisa ada di sana? Lian Sen malas menjawabnya. Ia menarik Lin Lu agar berdiri di sampingnya. (Ih, Lian Sen kasar banget, deh. Main tarik Lin Lu gitu aja)

Lian Sen mengingatkan kali Lin Lu memintanya untuk menemani saat ketemu master Liang. Pekerjaannya sudah selesai dan mengajak Lin Lu untuk pergi.

Lin Lu sendiri malah bingung. Kapan dia bilang begitu? Lian Sen memberitahu kalo Lin Lu sendiri yang bilang saat ia menggendongnya semalam. (Menggendong? Semalam? Lah, kalimatnya bikin salah paham, nih! 😊😊😊)

Lin Lu bingung. Dia nggak ingat apa-apa. Lian Sen tersenyum menatap Liang yang sudah lama mengobrol dengan pacarnya. Masih ingin lanjut? Liang bangkit dan menolak.

Lian Sen membelai rambut Lin Lu dan menyatakan kalo Lin Lu adalah pacarnya. Dan teman pacarnya adalah temannya juga. (Pacar? Kapan jadiannya?) Benar, kan, pacar?


Lin Lu mau menyangkalnya tapi Lian Sen malah menyentil hidungmya dan memintanya untuk nurut apa kata pacar. Lin Lu langsung tersenyum mengiyakan. Liang makin terbakar. Dia bangkit dan pamit.

Lin Lu langsung menjauh begitu Liang sudah nggak ada. Mendadak ekspresi Lian Sen berubah. Dia marah lalu pergi begitu saja.


Malamnya Lin Lu datang ke kamar Lian Sen dan minta dibantu menerjemahkan bahasa Inggris. Nggak seperti biasanya. Lian Sen langsung bilang kalo dia sibuk.

Lin Lu meledek, sibuk apa? Sibuk mencubit penjahat? Ia meminta Lian Sen untuk membantunya dan nanti ia juga akan membantu Lian Sen.

Lian Sen menyuruh Lin Lu untuk mengakui kesalahannya dulu baru ia akan membantu. Lin Lu yang sedang butuh asal mengiyakan. Ia ngaku salah. Dia benar-benar salah lalu meminta Lian Sen untuk membantunya.



Bukannya lega Lin Lu sudah mengaku salah, Lian Sen malah makin kesal. Ia menanyakan dimana letak kesalahan Lin Lu? Lin Lu bingung. Ia asal mengatakan kalo dia bersalah. Harusnya dia nggak bilang kalo Lian Sen jahat. Harusnya dia nggak mengacaukan ruangannya,

Lian Sen memberitahu yang sebenarnya. Ia ingin agar kedepannya Lin Lu jangan berbohong lagi padanya. Terutama saat ia ingin bertemu dengan Liang.

Lin Lu mengangguk mengiyakan. Lian Sen menutup laptopnya lalu menanyakan apa yang ingin Lin Lu tanyakan? Lin Lu menunjukkan catatannya pada Lian Sen. Ia mengingatkan kalo Lian Sen pernah bilang nggak mungkin ada dua kata kerja dalam satu kalimat. Di depan sudah ada kata have tapi kenapa setelahnya itu?


Lian Sen mengambil catatan Lin Lu dan membacanya. Ia lalu menjelaskan kalo pertanyaan itu adalah bentuk completion tense. Have set artinya sudah diatur. Kata set di situ membahas partisip.

Lin Lu nggak paham dan menanyakan apa itu partisip? Dia merasa nggak pernah mendengarnya. Ia lalu meminta Lian Sen untuk mengatakannya lagi.

Lian Sen menghela nafas lalu kembali menjelaskan. Have. Lin Lu memotong kalo have menurutnya adalah kepemilikan. Ia mempelajarinya saat SMA. Lian Sen yang sudah di luar negeri selama bertahun-tahun saja nggak tahu.

Lian Sen mengembalikan catatan Lin Lu dan memintanya untuk menyerah saja. Melihat level bahasa Inggris Lin Lu sekarang, ia yakin kalo Lin Lu nggak akan lulus wawancara.

Lin Lu juga ikutan kesal. Kalo Lian Sen nggak ngerti ya tinggal bilang saja. Nggak perlu banyak alasan. Ia lalu bangkit dan keluar.




Lin Lu kembali ke kamarnya. Ia yakin bisa melakukannya dengan kekuatannya sendiri. Ia memuali dengan mendengarkan. Ia lalu mengambil headphonenya dan mulai mendengarkan.

Baru aja mendengarkan ia lalu melepas headphonenya. Katanya kecepatan. Ia lalu membuka catatannya. Lebih baik membaca dulu. Ah, nggak jadi. Mending dia latihan melafalkan dulu. Ia mengambil kamusnya dan mulai menbaca.

Lah, kok malah jadinya ngantuk. Akhirnya ia tertidur di atas kamus. Lian Sen masuk dan menemukan Lin Lu sudah tidur. Ia pun tersenyum. Ia mendekat dan melihat sampai halaman berapa Lin Lu membacanya. Ia lalu membelai rambut Lin Lu sambil senyum. Pelan-pelan ia mendekat dan...

Ih, gantung banget endingnya ih. Padal kurang dikit lagi Lian Sen sampai mencium Lin Lu. Jangan-jangan nggak jadi gara-gara Lin Lu bersin.

Tapi Lin Lu emang gampang banget tidurnya. Duduk aja bisa sampai ketiduran.

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekinπŸ˜₯πŸ˜₯

Luv you πŸ˜™πŸ˜™πŸ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate