Monday, April 1, 2019

Published April 01, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 8 part 2



Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Lian Sen pulang dan terkejut lihat rumahnya dipenuhi nuansa pink. Lin Lu menyapanya dan menunjukkan apa yang barusan dia buat. Ta da! Ia menantakan apa semua itu membuat Lian Sen ingin tidur?

Lian Sen sampai nggak bisa berkata-kata lihat semuanya. Lin Lu lalu menarik Lian Sen ke ruang tamu. Lah, ada balon juga di dekat meja. Hadeuh, Lian Sen sudah kesal banget kelihatannya.

Lin Lu mengatakan kalo membuat rumah terlihat nyaman maka akan membuat mata mengantuk dengan baik. Ia meyakinkan kalo ia akan tidur meskipun Lian Sen malam ini nggak tidur. Lian Sen diam. Lin Lu melanjutkan kalo dia masih punya kejutan besar di lantai atas.



Lin Lu lalu membawa Lian Sen ke kamarnya. Ha? Lian Sen tambah kaget lagi lihat kondisi kamarnya. Seprai pink? Kelambu pink? Taplak meja pink? Lin Lu duduk di atas tempat tidur dan memberitahu kalo semua biayanya lebih dari 1000 yuan. Apa Lian Sen akan membayarnya secara online atau tunai?

Lian Sen menatap Lin Lu dan menganggap kalo Lin Lu memberikannya padanya. Lin Lu syok. Dia bangkit dan bertanya, Lian Sen nggak berencana untuk nggak bayar, kan? Lian Sen nggak bilang apa-apa dan hanya menatap Lin Lu tapi dengan tatapan tajam.


Lin Lu melunak, uang tunai juga nggak papa, kok. Lian Sen mengambil ponselnya dan menelpon Maggie. Ia menyuruh Maggie untuk membawa barang-barang yang ada di rumahnya. Sekarang juga. Dalam hati ia bertanya-tanya apa dia harus tidur bareng Lin Lu lagi?

Lin Lu mengeluh kalo ia mengerjakan semuanya seharian. Ia lalu menatap Lian Sen dengan tatapan super sedih. Lian Sen mengatakan kalo Lin Lu akan memiliki kamar itu. Tapi ia juga harus memikirkan cara untuk menghadapi pesta ulang tahun ayahnya.

Lin Lu nggak ngeh. Pesta ulang tahun apa? Lian Sen memberitahu kalo Jum'at depan adalah hari ulang tahun ayahnya. Lin Lu nggak ngerti, apa hubungannya dengannya?

Lian Sen memberitahu kalo dia membutuhkan Lin Lu sebagai men...sebagai juru bicara Huanzhen. Lin Lu rasa Lian Sen nggak gitu maksudnya. Tadi bilangnya men... . Lian Sen nggak mau membahasnya dan pergi begitu saja.


Malamnya Lian Sen nggak bisa tidur. Ia sangat gelisah. Ia lalu teringat saat tidur bersama Lin Lu malam itu. Ia lalu bangun dan menghampiri Lin Lu yang tidur di ruang sofa tamu. Ia duduk di dekat Lin Lu dan ingat tentang apa yang dokter Chen bilang. Terobosan. Ia akan melakukannya sekali saja.

Lian Sen mau membuka kantong tidur Lin Lu tapi malah di dorong sampai ia terjatuh. Lian sen bangkit dan mencoba untuk bersabar. Ia akan mengikuti saran dokter dan mencoba lagi.

Lian Sen kembali duduk di dekat Lin Lu tapi kali ini malah kena tendang. Lian Sen bangkit. Dia sangat geram. Ia merasa sudah kehilangan akal sehat. Ia bertanya-tanya gimana bisa punya pikiran untuk tidur dengan wanita g*la itu. Ia pun bangkit dan kembali ke kamarnya.


Hari sudah pagi. Mereka sarapan bersama dengan menu steik. Lin Lu kesulitan memotongnya dan mau menggigitnya langsung. Lian Sen langsung memelototinya.

Selanjutnya Lian Sen mengajari cara meminum anggur. Langkah pertama adalah dengan melihatnya. Dimulai saat menuangkan anggur. Setelah anggur dituangkan, pencicip harus memegang kaki gelasnya dengan kemiringan 45 derajat. Selanjutnya kocok anggur sekali lagi dan amati keadaan anggur yang mengalir di dinding gelas.

Lin Lu mencatatanya tapi nggak kekejar dan meminta Lian Sen untuk pelan-pelan ngomongnya. Lian Sen kesal dan langsung meletakkan gelasnya dengan agak keras lalu menatap Lin Lu tajam. Lin Lu hanya tersenyum.


Mereka pindah duduk di sofa. Lian Sen meminta Lin Lu untuk mengulangi pelajarannya sementara ia bekerja. Lin Lu mengatakan kalo anggur nomor satu di dunia adalah...Ro..Ro.. lupa. Lian Sen mengingatkan, Roman Conti. Ia menutup laptonya lalu bangkit. Lin Lu mengaku tahu. Selanjutnya, orang kuat memiliki antibodi,... . Ia mencatatnya di dalam buku. Roman Conti.


Lin Lu mengawasi Lian Sen dikamarnya lalu menelpon Jing Jing di tangga. Ia menanyakan hadiah untuk orang tua. Jing Jing menanyakan untuk siapa hadiah itu? Lin Lu memberitahu kalo itu buat ayahnya Shi Lian Sen. Ia bertanya gimana kalo cangkir gelembung? Atau wastafel otomatis? Kan orang tua biasanya memakai itu.

Jing Jing melarang karena ini bukan orang tua sembarangan. Dia pasti nggai akan bisa melihat ketulusan Lin Lu kalo Lin Lu memberikan itu. Lin Lu lalu menanyakan apa yang Jing Jint sarankan untuknya?

Jing Jing mengatakan kalo seperti kata pepatah, ucapan selamat yang ringan dan tulus. Ia meminta Lin Lu untuk memikirkan hal yangkreatif san penuh makna. Lin Lu mengiyakan. Ia merasa kalo apa yang Jing Jing katakan nggak bisa membantunya. Ia akan memikirkannya sendiri.


Hari ulang tahun ayah pun tiba. Semua orang sudah datang kecuali Lian Sen. Ayah memutuskan kalo nggak akan menunggu lagi dan akan memulainya. Zichen menenangkan. Ia yakin kalo Sen Ge nggak lupa acara hari ini. Mungkin sedang terjebak macet. Lebih baik menunggu sebentar lagi.

Fang juga sependapat dan menyarankan untuk menunggu lagi. Dan benar, nggak lama kemudian Lian Sen datang bersama dengan Lin Lu. Ia meminta maaf karena terlambat dan segera bergabung. Semua orang langsung menatapnya. Lin Lu berbisik meminta agar Lin Lu nggak tegang dan santai saja. Jangan lupa tersenyum.

Lin Lu menyangkal. Dia nggak gugup dan selalu tersenyum. Suasana jadi nggak enak. Lian Sen menarik kursi dan mempersilakan Lin Lu untuk duduk.


Ayah memberi sambutan. Ia berterima kasih karena mereka semua mau datang ke pesta ulang tahunnya padahal mereka sangat sibuk. Ia mengajak semua orang bersulang untuk menghormatinya. Semua orang mengangkat gelas anggur masing-masing. Demikian juga dengan Lin Lu.

Zichen mengucapkan selamat ulang tahun pada ayah dan mengajaknya bersulang. Fang juga  mengajak ayah bersulang dan berharap ayah selamanya tampan dan menarik. Ayah tersenyum dan merasa kalo Zichen dan Fang merasa bangga padanya.

Fang dan Zichen menatap Lian Sen tapi yang ditatap nggak nyadar. Lin Lu memberitahu kalo sekarang giliran Lian Sen. Lin Lu lalu bangkit mewakili Lian Sen. Ia mengajak ayah bersulang dan mendoakan agar ayah selalu sehat. Ayah mengambil gelasnya dan langsung minum.

Lin Lu merasa nggak enak karena mendapatkan penolakan. Ia meminum anggurnya dan kembali duduk.


Zichen menjentikkan jarinya. Pelayan mengambilkan hadiahnya untuk ayah. Itu adalah anggur karena ia tahu ayah sangat menyukai anggur. Ayah tersenyum dan memuji Zichen yang tahu seleranya. Lin Lu sampai ternganga lihatnya. Anggur itu seharga lebih dari satu juta yuan.

Fang juga meminta pelayan untuk mengambilkan hadiahnya. Ia tahu ayah suka main golf saat bekerja. Jadi ia meminta seseorang secara khusus untuk membelikannya.

Ayah membuka hadiahnya dan memberitahu kalo ia belum pernah membeli stick golf yang seperti itu. Tapi Fang malah menghadiahkannya untuknya. Fang tersenyum dan mengajak ayah bermain golf kapan-kapan. Ayah tersenyum dan mengaku suka pada sikap Fang.


Paman menegur Lian Sen dan menanyakan hadiahnya untuk ayah. Ayah mengaku nggak menggarapkan hadiah dari Lian Sen. Lian Sen lalu memberikan sebuah dokumen pada ayah. Itu adalah laporan keuangan untuk produk Cinderella.

Ayah mengambilnya dan membacanya. Ia tersenyum lihat keuntungannya. Lin Lu juga sangat kagum lihat nolnya yang ada banyak. Zichen menanyakan apa yang Sen Ge berikan adalah laporan keuntungan Cinderella? Ayah tersenyum dan mengatakan kalo itu adalah sebagian kecil dari cabangnya.

Cabang? Lin Lu bertanya-tanya berapa banyak itu? Dia nggak kebayang berapa banyak uang yang Lian Sen punya. Lin Lu mulai membangkannya.


Zichen memanggil Lin Lu dan memberitahu kalo sekarang gilirannya. Lin Lu merasa gugup. Ia bangkit dan bilang akan memulainya. Ia mengambil alat musik (nggak tahu namanya apaan) dan memainkannya sambil menyanyikan sebuah lagu.

Ayah nampak nggak tertarik dan memalingkan wajahnya. Zichen aja sampai tertawa melihatnya. Lin Lu bertanya apa mereka belum pernah dengar tentant Allegro? Zichen rasa nggak papa. Dia menyuruh Lin Lu untuk melanjutkannya.

Lin Lu tersenyum dan kembali bernyanyi. Kali ini ia menghampiri ayah dan menyanyikan hadiah yang ayah dapatkan di hari ulang tahunnya. Anehnya Lian Sen malah senang lihat ayahnya nggak nyaman gara-gara Lin Lu.


Lin Lu sudah selesai bernyanyi tapi semua orang malah diam. Zichen lalu bertepuk tangan dan merasa kalo itu bagus. Semua orang pun ikut bertepuk tangan. Lin Lu menyombongkan kalo itu adalah keahlian keluarga Lin.

Ayah menyudahi dan terang-terangan mengatakan kalo Lin Lu nggak bisa masuk ke keluarga Shi. Jadi nggak ada yang bisa dibanggakan. Lin Lu langsung murung mendengarnya.


Lian Sen nggak suka dengan apa yang ayah katakan. Ia bangkit dan merasa sudah cukup untuk melawan. Ia merangkul Lin Lu dan menyatakan bertanggung jawab untuk Lin Lu. Kalo nggak ada hal lain lagi maka mereka akan pamit. Lian Sen menarik Lin Lu dan membawanya pergi.

Zichen berbisik ke Fang. Apa Fang berpikir semenjak mereka hidup bersama, perasaan mereka tampak lebih intim? Fang mengulangi, intim? Ia jadi resah setelahnya.


Sampai rumah Lian Sen dan Lin Lu kembali minum. Lian Srn mau mengatakan kalo apa yang ayahnya katakan... . Lin Lu nggak mau dengar dan mengajak Lian Sen untuk minum lagi. Lin Lu memberitahu kalo bir lebih enak dari anggur. Selain itu juga lebih murah 99%. Dia benar-benar nggak ngerti dengan orang-orang kaya seperti Lian Sen. Kenapa mereka lebih menyukai anggur? Padahal aturan minumnya sangat banyak.

Lian Sen mengiyakan. Lin Lu meminum minumannya dan bertanya kenapa Lian Sen memberitahunya? Lian Sen santai. Ingin saja. Apa Lin Lu nggak mau? Lin Lu tersenyum. Dia mau. Lin Lu minum lagi. Ia berterima kasih karena Lian Sen sudah berdiri di sisinya saat di pesta ulang tahun tadi.

Lian Sen memberitahu kalo itu nggak ada hubungannya dengan Lin Lu. Ada sesuatu yang harus ia lakukan makanya ia mengajak Lin Lu pulang. Lin Lu tersenyum. Lian Sen kembali menyinggung apa yang ayahnya katakan. Ia menasehati agar Lin Lu nggak usah memperdulikannya.


Lin Lu tersenyum pedih. Dia mungkin nggak tahu tentang itu. Tapi menurutnya Lian Sen nggak perlu melakukan itu untuknya dan membuat ayahnya marah. Ia memberitahu kalo orang tua sama dengan anaknya. Like father like son. Semua anak membutuhkan orang tuanya.

Ia lalu menceritakan kalo saat ia kecil orang tuanya mengajarinya Allegro. Ia sering malas-malasan dan membuat orang tuanya marah. Lin Lu tersenyum. Ia merasa nggak masalah dimarahi selama ia bisa bersama ayahnya. Lian Sen menatap Lin Lu.


Lin Lu mendekat dan memberitahu kalo ini benar-benar bagus. Apa Lian Sen ingin mencobanya? Lian Sen menatap Lin Lu. Sebenarnya... .Lin Lu nggak ingin mendengarnya. Ia merasa sudah mabuk dan ingin istirahat. Ia akan tidur lebih awal.

Lin Lu bangkit dari tempat duduknya dan pergi ke kamarya. Lian Sen malah tersenyum dan ingat kejadian tadi saat Lin Lu menyanyi di pesta ulang tahun ayahnya.


Saat di tempat tidur pun Lian Sen masih ingat dengan tingkah Lin Lu.  Ia juga teringat dengan apa yang dokter katakan kalo itu adalah terobosan Lian Sen. Ia mengambil kontraknya dan membacanya lagi. Ia lalu meletakkan lapotonya di atas meja dan mencoba untuk tidur. Lian Sen kesal karena dia masih belum bisa tidur.

Lin Lu juga belum tidur. Dia nggak ngerti apa yang salah dengan keluarga Lian Sen. Berapa, sih umurnya? Masih terlihat kekanakan dan sombong.tapi sebagai gadis cantik yang bisa mandiri di abad ini, ia yakin pasti bisa mengandalkan kekuatannya sendiri. Untuk menciptakan dunia baru. Semangat! Semangat!


Lin Lu membuka tabletnya dan melihat nominasi kontes kecantikan. Hadiahnya 100.000 yuan. Ia berdiri di membayangkan uang koin emas berjatuhan. Lin Lu berusaha menangkapnya dan malah terjatuh. Ia merasa pusing.

Sepasang kaki menghampirinya. Dan ternyata dia adalah Lian Sen. Ia tersenyum menatap Lin Lu.

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate