Saturday, April 6, 2019

Published April 06, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 15 part 3


Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Liang bertanya apa itu gara-gara Shi Lian Sen? Lin Lu nggak bisa menjawabnya dan menjauh dari Liang. Ia mengaku sangat terharu mendengar apa yang tadi Liang katakan. Ia yakin kalo mereka akan rukun di masa depan. Ia berterima kasih karena selama ini Liang sudah baik padanya. Ia lalu pamit dan pergi.

Liang merasa sangat benci pada Lian Sen. Ia lalu nggak sengaja melihat sesuatu di bawah bantal tidur Lin Lu.


Lin Lu sampai di luar tanpa menyadari kalo Lian Sen selalu mengawasinya. Ia pergi ke taman. Ia merasa kalo adegan itu sangat akrab. Akan lebih baik kao sambil makan Mala Tang. Tapi yang ada di tangannya hanya sate.

Ia lalu mengambil ponselnya tapi merasa nggak ada orang yang bisa ia hubungi sekarang. Ia lalu melihat Lian Sen sedang menelpon nggak jauh dari tempatnya sekarang. Lin Lu heran kenapa Lian Sen ada disana?

Lin Lu menarik kopernya mendekati Lian Sen. Ia menepuk pundaknya. Tapi ternyata orang itu bukanlah Lian Sen. Lin Lu langsung meminta maaf dan mengaku salah orang. Orang itu nggak mempermasalahkan lalu pergi.


Lin Lu kesal pada diri sendiri karena masih saja ingat pada Lian Sen. Ia lalu menarik kopernya dan pergi dari sana. Di belakangnya nampak Lian sen yang masih saja mengawasinya.

Lian Sen tersenyum lalu kembali ke mobilnya. Ia menelpon Maggie dan menyuruhnya untuk memesan semua kamar hotel yang ada di dekat taman. Jangan sampai ada yang tersisa satupun.


Lin Lu terus berjalan sambil makan sate karena nggak menemukan kamar hotel. Ia lalu melihat seorang kakek yang sedang tidur di bangku taman. Di dekat kakek itu ada koper.

Lin Lu meletakkan kopernya dan dudik diatasnya. Ia memanggil kakek itu dan menanyakan apakah itu kursi santainya? Kakek itu hanya melihat Lin Lu sekilas lalu kembali tidur.

Lin Lu menghela nafas dan merasa kalo merrka berdua adalah manusia yang jatuh dari langit. Ia menawari kakek iti satenya.

Kakek itu nggak menanggapi. Lin Lu lalu memakannya sendiri. Lin Lu terus saja ngomong panjang lebar dan membuat kakek itu kesal.

Lin Lu memberitahu kalo semua hotel dekat sana sudah penuh. Ia bertanya-tanya apa karena ada banyak turis yang datang? Kakek itu bangun saking gedhegnya dengar omongan Lin Lu. Kenapa Lin Lu sangat berisik?


Seorang nenek tiba-tiba datang dan menghampiri kakek itu. Ia nampak khawatir dan meminta kakek untuk pulang bersamanya. Kakek menolak. Dia nggak mau pulang. Nenek meminta agar kakek nggak usah cemburu lagi. Ia janji kalo kedepannya dia nggak akan jalan dengan pria tua lainnya.

Kakek kesal. Menurutnya nenek nggak akan menemukannya kalo dia ada di hotel. Nenek hanya tersenyum. Kakek melanjutkan kalo ada banyak pemalas yang baru datang.

Nenek mengaku tahu. Ia menyindir kakek yang sudah tua tapi masih seperti anak kecil. Nggak malu pada nona yang ada di sebelahnya. Kakek mengaku nggak peduli.

Kakek mengatakan kalo saat ia melihat nenek, nenek bukanlah satu-satunya yang paling memalukan. Ia melirik Lin Lu dan memberitahu nenek kalo Lin Lu menyakiti pikirannya karena sangat berisik. Nenek mengiyakan dan mengajak kakek untuk pulang.

Lin Lu tersenyum menyaksikan keharmonisan keduanya. Ia lalu mengambil satenya kembali. Ternyata kakek tadi bukanlah gelandangan tapi seekor anj*ng yang terlepas. Dan ternyata dia sendiri yang gelandangan.


Ponsel Lin Lu bunyi. Dari Lian Sen. Ia menghela nafas lalu mengangkatnya. Lian Sen yang di dalam mobil bertanya Lin Lu dimana? Lin Lu memberitahu kalo ia sedang jalan-jalan di taman. Lian Sen menyindir, jalan-jalan sambil bawa koper?

Lin Lu bingung. Gimana Lian Sen bisa tahu? Lian Sen memberitahu kalo seseorang telah memotret Lin Lu sedang menyeret koper di taman.

Lin Lu langsung sembunyi di balik kopernya. Paparazi? Lian Sen tersenyum dan memberitahu kalo akan ada banyak wartawan yang datang. Ia menyuruh Lin Lu untuk segera mencari hotel sebelum para wartawan datang.

Lin Lu nggak tahu harus melakukan apa karena semua hotel dekat taman sudah penuh. Lin Lu mrlihat baterai ponselnya sudah hampir habis dan lagi dia nggak tahu jalan.

Lian Sen tersenyum. Ia meminta Lin Lu untuk menunggu disana. Ia akan segera datang. Lin Lu mengiyakan lalu menutup telponnya.


Lin Lu menunggu Lian Sen sambil duduk di bangku. Lian Sen nggak juga datang padahal ia sudah mengantuk. Tiba-tiba satang dua orang pria dan duduk di samping Lin Lu.

Mereka mengganggu Lin Lu dan mau melecehkannya. Tapi melihat penampilan Lin Lu yang menarik, mereka lalu meminta Lin Lu untuk mengelyarkan uangnya.

Lin Lu bangkit dan mau melarikan diri. Dua pria itu menahan tangannya. Lin Lu lalu menggigit tangan salah satunya lalu melarikan diri. Ia lalu menabrak Lian Sen. Pria yang mengganggu Lin Lu mengeluarkan pisau dan menyerang Lian Sen.


Lian Sen yang terlambat mengelak terkena pisau. Ia lalu balik menyerang kedua pria itu. Dan meski seorang diri, ia berhasil mengalahkan keduanya. Lin Lu melarang Lian Sen untuk berkelahi lagi dan menariknya pergi dari sana.

Mereka berhenti setelah agak jauh. Lian Sen melihat tangannya yang terluka. Lin Lu merasa nggak enak karena itu gara-gara dia. Lian Sen tersenyum dan menenangkan kalo dia nggak papa. Cuman goresan kecil.

Lin Lu bertanya apa sakit? Lian Sen bilang enggak. Ia maju dan mengulurkan tangannya ke dagu Lin Lu agar menatapnya. Lin Lu nggak ngerti Lian Sen mau ngapain? Ia lalu memejamkan matanya.

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate