Saturday, April 6, 2019

Published April 06, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 16 part 1


Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Lian Sen mendekat lalu menyentuh dagu Lin Lu dan mengarahkannya agar menatapnya. Lian Sen mau ngapain, nih? Lin Lu memejamkan matanya, siap untuk mendapatkan ciuman.

Lian Sen tersenyum lalu mengambil saputangan. Lah, ternyata dia cuman mau membersihkan mulut Lin Lu yang kena minyak habis makan sate.


Lin Lu langsung cemberut. Ngarep banget dicium sama Lian Sen kayaknya. Lian Sen menanyakan Lin Lu nggak punya tempat menginap? Lin Lu menyangkal. Dia baru aja mau pergi.

Ia mau mengambil kopernya tapi Lian Sen tiba-tiba menariknya. Ia tersenyum mengejek apa yang Lin Lu katakan barusan. Kalo Lin Lu mempunyai tempat tinggal, ngapain nasih membawa koper malam-malam begini?

Lin Lu melepaskan diri. Maunya Lian Sen apa, sih? Lian Sen tersenyum dan mau menawarkan kesepakatan. Apa Lin Lu mau. Lin Lu menatap Lian Sen, nggak paham.


Lian Sen membawa Lin Lu ke rumahnya. Lin Lu mengambil kotak obat dan mengobati luka Lian Sen. Lian Sen memberitahu kalo dia barusan mengosongkan sebuah kamar. Kalo Lin Lu nggak punya tempat tinggal,... . Lin Lu bisa menempatinya.

Lin Lu merasa nggak nyaman. Ia mengingatkan kalo kontrak mereka sudah berakhir. Kalopun mereka hidup bersa dengan hubungan yang seperti itu mungkin nggak akan terasa nyaman.

Lian Sen tersenyum. Ia merasa kalo Lin Lu berpikir terlalu jauh. Padahal ia hanya ingin mencari seorang penyewa. Dan menurut Lian Sen, Lin Lu sangat memenuhi kriterianya.

Lin Lu mengoleskan obat ke luka Lian Sen. Ia menatap Lian Sen, maksudnya? Lian Sen menyebutkan kalo Lin Lu tenang, cinta kebersihan, hidup sehat, bersikap positif, nggak menyebarkan emosi negatif, baik hati, anak yang berbakti, dan nggak mengganggu.

Lin Lu melepaskan tangan Lian Sen dan meledek. Dia mau cari penyewa apa nyari teman kencan buta? Lian Sen tersenyum mendengarnya.


Lin Lu menambahkan kalo Lian Sen kan obsesif kebersihan, insomnia, dan figur publik yang ngerepotin tapi pinginnya penyewa tepat. Sulitan itu ketimbang mau ke surga.

Lian Sen mengatakan kalo ia pikir Lin Lu cocok jadi Lin Lu nggak perlu mencari tempat tinggal lagi.

Lin Lu malah merasa sebaliknya. Sekalipun Lian Sen membencinya, tapi hubungan mereka saat ini sangat nggak tepat untuk hidup bersama. Lin Lu menghela nafas. Ia merasa kalo sekarang sudah malam. Ia akan pergi setelah selesai mengobati luka Lian Sen.



Lin Lu lalu menutup luka Lian Sen dengan kain kasa. Lian Sen melihat botol obat merah di dalam kotak obat. Ia jadi terpikir sesuatu.

Ia mengaku haus dan meminta Lin Lu untuk mengambilkan minum. Lin Lu menurut. Ia pergi untuk mengambil air. Selagi Lin Lu pergi, Lian Sen buru-buru memgambil obat merah dan meneteskannya ke atas kasa.

Nggak lama kemudian Lin Lu kembali lagi dan menuangkan air ke dalam gelas. Dia kaget banget lihat luka Lian Sen tiba-tiba mengeluarkan darah. Kayaknya tadi nggak segitu serius. Ia lalu mengajak Lian Sen buat periksa ke rumah sakit.

Lian Sen melarang. Nggak perlu katanya. Menurutnya itu hanya goresan kecil, cuman lubang kecil bekas goresan pisau. Harusnya sih nggak akan terjadi infeksi.


Lin Lu nampak sangat menyesal. Gimana juga luka itu gara-gara dia. Lian Sen bangkit. Dia mau mengantar Lin Lu pulang. Sudah malam.

Lin Lu buru-buru melarang. Lian Sen sedang terluka jadi nggak perlu mengantarnya. Lian Sen tetap ingin mengantar Lin Lu.

Lin Lu kekeuh nggak mau. Mending ke rumah sakit aja. Lah, gliran Lian Sen nggak mau. Nggak perlu. Ia meraih tangan Lin Lu dan mengingatkan kalo sekarang sudah malam. Dia nggak akan membiarkan Lin Lu pergi sendiri.

Lin Lu menarik tangannya. Lian Sen mengatakan kalo Lin Lu bisa membantunya dengan menjadi penyewanya. Kalo ada yang lain lagi Lin Lu bisa memberitahunya.



Lin Lu melihat luka Lian Sen dan jadi nggak tega. Lian Sen menyinggung tentang skandal di Huanzhen belakangan yang membuat pendapatan perusahaan menurun dan mungkin juga akan terpuruk sementara waktu. Lin Lu jadi makin nggak enak.

Lian Sen meminta agar Lin lu nggak terlalu memikirkannya. Ia berjalan meninggalkan Lin Lu sambil menarik koper Lin Lu. Tiba-tiba Lin Lu setuju dan menanyakan berapa harga sewanya?

Lian Sen tersenyum lalu berbalik sambil menyembunyikan senyumnya. Nggak usah dipikirkan. Gimanapun juga hubungan mereka hanya sebatas bos dan karyawan saja. Dia tahu kalo Lin Lu takut orang lain akan salah paham. Dia juga nggak ingin memaksa.

Lin Lu menatap Lian Sen dan mengaku sudah memutuskan. Situasi Huanzhen saat ini juga adalah tanggung jawabnya. Kalo sekarang hubungan mereka hanya sebatas pemilik dan penyewa ia rasa nggak akan ada masalah.


Lian Sen tersenyum. Bagus, deh. Ia akan naik dan mandi. Ia menyuruh Lin Lu untuk istirahat lebih awal. Lian Sen sudah mau beranjak. Lin Lu mengingatkan agar luka Lian Sen jangan sampai terkena air. Lian Sen tersenyum. Ia memberitahu kalo kamar Lin Lu sekarang ada di lantai atas.

Lin Lu mau bilang sesuatu tapi Lian Sen sudah keburu naik dengan membawa kopernya. Ia lalu membereskan kotak obat sambil melihat ke atas. Tempat Lian Sen menghilang.

Di masa depan ia hanyalah seorang penyewa biasa. Ia merasa nggak boleh terlalu memikirkan Lian Sen.


Lian Sen membawa Lin Lu ke kamarnya. Ia meminta Lin Lu untuk istirahat lalu pergi.

Lin Lu menutup pintunya dan merasa sangat senang dengan kamar barunya. Ada kelambunya juga. Ia masuk ke dalam kelambu dan menggunakannya seolah itu adalah kerudung pengantin.

Tet..tet...tet..tet... . Sambil nyanyi. Sedetik kemudian dia merasa sedih karena hubungannya dengan Lian Sen sekarang hanya antara penyewa dan pemilik.

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate