Wednesday, April 3, 2019

Published April 03, 2019 by with 0 comment

Sinopsis Time Teaches Me to Love episode 12 part 1


Semua gambar dan konten bersumber dari iQiyi

Lian Sen mengaku nggak ingin membuat pacarnya sedih. Liang mengerti. Ia bangkit dan mengatakan mengundurkan diri. Ia meminta agar Lian Sen nggak memanfaatkan Lin Lu lagi. Kalo sampai Lian Sen melakukannya untuk tujuan sendiri maka, Liang nggak akan mengampuninya. Ia lalu pergi.


Lian Sen memanggil Maggie dan memberinya sebuah dokumen. Ia menugaskan Maggie untuk mempublikasikan bukti keterlibatan Sally secara online besok. Buat pernyataan kalo Huanzhen dan Sally nggak damai.

Maggie menyimpulkan kalo Lian Sen ingin mengarahkan tombak ke Sally. Lian Sen mengangguk membenarkan. Maggie mengerti. Ia lalu pamit. Lian Sen memanggilnya lagi dan berpesan agar Maggie nggak melibatkan Liang Zhi dalam masalah itu. Maggie kembali mengiyakan.


Anak CEO Sally mendatangi ayahnya dan memberitahu kalo sekarang Huanzhen sedang sengsara. Kalo seperti ini terus, ia yakin kalo mereka akan bangkrut. Ayahny ternyata sudah mengetahuinya dan meminta anaknya untuk mengatakan sesuatu yang belum ia tahu.

Anak CEO menebak kalo ayahnya ingin Liang Zhi datang padanya. CEO Sally menatap anaknya dan merasa kalo Liang Zhi nggak punya pilihan lain. Ia khawatir kalo Liang akan kesulitan berada di sisi yang lain.

Anak itu memuji keahlian ayahnya. Ia yakin kalo selama ayahnya menginginkannya maka cepat atau lambat Huanzhen pasti akan diinjak. Biar saja selama ini Shi Lian Sen memandang rendah dirinya dan cepat atau lambat maka ia akan lebih baik dari Lian Sen.

CEO Sally mengingatkan kalo anaknya nggak punya keahlian seperti itu. Ia menanyakan kapan anaknya akan membuka kepala peti matinya itu? Anak itu membalas kalo kepala peti mati juga dibuat oleh ayahnya. CEO Sally menyuruh anaknya untuk keluar. Dia nggak ingin mrlihatnya lagi. Sang anak bangkit lalu pergi.


Sudah jam setengah sebelas tapi Lian Sen belum pulang juga. Lin Lu menunggu sambil menonton tv. Hhh,sudah saatnya untuk tidur. Ngapain juga nunggu Lian Sen? Kan mereka lagi marahan?

Lin Lu bangkit dan mau ke kamarnya. Ah, nggak boleh. Dia harus nunggu. Lin Lu pun kembali duduk. Ia menyalakan kembali tv-nya. Lama-kelamaan ia mengantuk dan akhirnya tertidur.


Lian Sen pulang agak lama kemudian dan melihat Lin Lu tidur di sofa. Ia mendekat dan tersenyum. Dengan pelan-pelan ia meletakkan ponselnya di meja lalu duduk di samping Lin Lu. Lin Lu mengigau, kepala kayu, pendendam! Kekanakan!

Lian Sen bukannya marah tapi malah tersenyum. Ia bangkit lalu menggendong Lin Lu dan menidurkannya di kamarnya.


Ponsel Lian Sen bunyi. Sebuah pesan dari Zichen masuk. Zhichen sedang menemani Fang di klub. Ia duduk di samping Fang dan langsung dapat tatapan tajam. Ia merasa takut ditatap seperti itu. Ia menanyakan apa yang Fang pikirkan?

Fang mengakui kalo sebenarnya Zhichen cukup baik. Menarik. Menyedihkan. Zichen tersenyum dan menanyakan maksud Fang. Fang melanjutkan kalo dia nggak tahu gimana Zichen bisa menoleransikannya selama bertahun-tahun kebelakang. Dia sering bersikap kasar padanya yang bahkan bukan pacarnya. Ia janji tak akan memanfaatkan Zichen lagi.

Zichen santai. Nggak masalah kalo Fanh mau menyalahgunakannya. Dia memang terlahir untuk itu. Nggak masalah kalo Fang ingin begitu karena ia belun menemukan arti keberadaannya.


Fang menghela nafas dan memberitahu kalo dia akan pergi. Zichen nggak ngerti. Fang mau pergi kemana? Sedetik jemudian Zichen mengetakan kalo ia akan pergi bersama Fang. Zichen mengambil botolnya dan meminumnya sampai habis. Nggak cukup satu. Zichen menghabiskan beberapa botol sekaligus.

Fang heran melihatnya. Ia pun berusaha menghentikannya dan melarangnya untuk minum lagi. Zichen minta agar Fang membiarkannya minum karena itu bisa meringankan hatinya. Ia pun kembali minum.


Zichen tahu-tahu merangkul Fang. Kalo Fang beneran pergi, dia harus ngapain? Fang menyingkirkan tangannya Zhichen dari pundaknya. Zichen mabuk. Zhichen mengaku nggak mabuk. Ia kembali merangkul Fang. Dia nggak peduli gimana juga Fang harus membawanya pergi. Dia nggak mau ngijinin Fang pergi.

Zichen mendorong Fang dan mengakui rasa cintanya sudah selama 20 tahun. Dia nggak mau hidup tanpa Fang. Fang nggak ngerti Zichen mau ngapain. Dia nyuruh Zichen untuk bangun. Di luar dugaan. Zichen malah mencium Fang tanpa ijin.

Fang mendorong Zichen setelahnya dan menamparnya. Ia lalu pergi. Zichen memegangi pipinya lalu minum lagi.


Hari sudah pagi. Lin Lu bangun. Ia ke kamar Lian Sen tapu ternyata Lian Sej sudah nggak ada di kamarnya.

Lin Lu berangkat ke toko. Liang nggak juga datang. Ia menanyakannya pada Cindy. Cindy memberitahu kalo Liang dipecat. Dipecat? Lin Lu serasa nggak percaya. Kenapa? Gimana mungkin? Dia kan manajer toko. Lin Lu memgambil ponselnya. Hari ini hari April mop. Mungkinkah Cindy bohong?

Lin Lu berusaha untuk nggak panik. Tapi gimana caranya dia nanyanya? Apa Liang terlibat? Ah, nggak mungkin juga. Nggak lama kemudian Liang datang. Lin Lu langsung mengkonfirmasi apa yang dikatakan Cindy benar?


Liang santai dan memberitahu kalo dia cuman mengundurkan diri. Kalopun nggak ada kasus produk palsu itu, sebenarnya dia sudah lama ingin mengundurkan diri. Lin Lu sendiri sudah mau nangis.

Liang menenangkan kalo master Liangnya sangat luar biasa. Ia akan bersinar dimanapun ia berada. Jadi Lin Lu nggak usah khawatir. Lin Lu mulai tersenyum. Liang berpesan agar Lin Lu nggak terlalu memikirkan masalah itu. Itu nggak ada hubungannya dengan siapapun. Ia ingin keluar sekarang karena ia merasa kalo ia nggak khawatir lagi kalo meninggalkan Lin Lu sendirian di Huanzhen. Karena sekarang Shi Zong nggak akan membiarkan Lin Lu diintimidasi oleh siapapun.


Lin Lu menghela nafas dan mencoba untuk nggak nangis. Liang memintanya untuk nggak terlalu memikirkannya. Kalo Lin Lu merindukannya maka pulanglah beberapa hari. Jing Jing selalu menunggunya. Lin Lu tersenyum dan mengangguk mengiyakan. Liang menguruh Lin Lu untuk kembali bekerja. Ia mengambil barang-barangnya lalu pergi.

Lin Lu lalu ingat perkataan Lian Sen yang katanya nggak tertarik dengan kehidupan pribadi Lin Lu. Tapi kalo Lin Lu terlalu dekat dengan Master Liang maka itu akan mempengaruhi hubungan mereka. Lin Lu merasa kesal. Ia lalu pergi ke kantor Lian Sen.

Dua orang rekan Lin Lu langsung bergosip setelah Lin Lu pergi. Mereka menduga kalo Liang dipecat gara-gara Lin Lu. Untung mereka bukan pria kalo enggak pasti mereka juga sudah dipecat. Untuk selanjutnya mereka harus ngomong yang baik-baik ke Lin Lu.


Lin Lu datang ke kantor Lian Srn dan marah-marah. Kenapa Lian Sen memecat master Liang? Lian Sen santai. Itu adalah keputusan perusahaan jadi ia nggak perlu menhelaskannya ke Lin Lu.

Lin Lu meremehkan. Keputusan perusahaan? Kenapa Lian Sen selalu seperti itu? Kalo itu karena masalah produk palsu maka harusnya ia juga ikut tanggung jawab. Kenapa Lian Sen hanya memecat Liang?

Lian Sen menoleh dan bertanya kalo nggak Liang apa dia musti mecat Lin Lu? Lin Lu mengatakan kalo nggak dia juga. Tapi dia yakin kalo Liang nggak akan melakukannya. Lian Sen seolah mengejek, benarkah? Kenapa Lin Lu percaya banget sama Master Liangnya?


Lin Lu malas dan memalingkan wajahnya. Lian Sen mengingatkan kalo mengenal orang belum tentu mengetahui apa yang mereka lakukan. Lin Lu nggak tahu?

Lin Lu mengaku nggak tahu apa yang Lian Sen maksud. Ia nggak memukirkan sebanyak yang Lian Sen pikir. Setahunya tersangkanya adalah mereka berdua dan mereja berada di kapal yang sama. Nggak seperti Lian Sen yang diam-diam mecat orang secara pribadi.

Lian Sen diam dan nggak ingin bilang apa-apa. Lin Lu ingat kalo itulah alasannya kenapa Lian Sen menyuruhnya untuk pindah kemarin. Ternyata Lian Sen sudah memikirkannya. Memanf ia terlalu b*doh sampai nggak tahu. Ia lalu membenarkan apa yang Liang katakan kalo mereka ada di dunia yang beda.

Lian Sen sudah nggak tahan lagi. Ia menyuruh Lin Lu untuk keluar. Nggak seharusnya Lin Lu menemui atasannya di saat jam kerja.


Lin Lu kesal. Ia mendekat dan mengatakan kalo dia belum selesai ngoming dan Lian Sen selalu ngambil kesimpulan sendiri. Nggak pernah peduli sama orang lain. Menururnya orang berdarah dingin, egois seperti Lian Sen itu sangat menyedihkan. Nggak punya hati sama sekali. Cuman hidup di dunianya sendiri.

Lian Sen nggak tahan lagi. Dia membentak Lin Lu. Cukup! Hadeuh, Lin Lu sampai kaget dan langsung terdiam. Lian Sen lalu nyuruh Lin Lu untuk keluar. Lin Lu menurut. Dia keluar.

Sedih ih kalo lihat pasangan ini berantem. Padahal maksudnya Lian Sen baik cuman Lin Lu aja yang nggak ngerti.

Bersambung...
      edit

0 komentar:

Post a Comment


Kehidupan nyata nyapekin๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

Luv you ๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™๐Ÿ˜™

Salam Pink
My photo
Aku Pink dan aku Yellow. Suka nonton drama tapi nggak tahu mau cerita ke siapa. Makanya buat blog biar punya tempat buat cerita.

Contact Me

Name

Email *

Message *

Followers

Total Pageviews

Follow by Email

Translate